Selasa, 12 Februari 2013

HIKAM ATAILLAH KE 23 (SYARAH TO’KU LI): HALANGAN BUKAN TABIR UNTUK BERMURAQABAH



 Menurut Kalam Hikmah ke 23 , Imam Ibnu Athaillah Askandary
Jangan menunggu halangan terhenti lantaran yang demikian itu akan menyingkirkan anda daripada bermuraqabah ( mengintai-intai ) terhadap kebesaran Allah sehingga anda buntu termangu berdepan dengan halangan yang ditimpakan ke atas anda
  • Muraqabah yang dimaksudkan di sini ialah mentahqiqkan atau meyakinkan hati melalui penilikan terhadap haq Allah secara zahir dan batin ke atas segala makhluknya atau disebut sebagai pengkajian fenomena tabii.
  • Muraqabah juga bermakna memandang kepada hakikat taqdir Allah serta tidak bergantung kepada tadbir.Justeru itu senangkan dan tenangkan hati anda daripada pergantungan kepada selain Allah serta jangan merasa kesal dengan segala ujian dan bala` yang ditimpakan olehNya.
  • Sehubungan ini jangan kiranya halangan,fitnah,mehnah dan kurbah menjadi sebenar-benar halangan untuk beramal,menjalani jalan Allah dan bermujahadah.Sebaliknya biarlah kesemua itu menjadi baja dan air yang menyubur dan menyirami ruh al-jihad,ruh al-amal dan ruh al-Ithar. Berita kesyahidan para sahabat Rasulullah SAW yang terkandung dalam surah al-Ankabut ayat 2-3 telah memarakkan daya juang dan daya amal mereka.Firman Allah SWT : 
Mafhumnya: Patutkah manusia menyangka bahawa mereka akan dibiarkan dengan hanya berkata : Kami beriman sedangkan mereka tidak diuji dengan sesuatu fitnah ? Dan demi sesungguhnya ! Kami telah menguji orang-orang yang terdahulu daripada mereka,maka dengan ujian-ujian demikian,nyata apa yang diketahui Allah tentang orang-orang yang sebenar-benarnya beriman,dan nyata pula yang diketahuiNya tentang orang-orang yang berdusta.
  • Masa dan haq adalah anugerah Allah yang dibataskan ke atas hamba-hambaNya.Lantaran itu pengisian masa dan penunaian haq adalah peluang keemasan untuk manusia mengambilnya dan merebutnya.Apabila hari ini dan esuk telah menjadi kelmarin maka penyesalan tidak berguna.Waktu yang diberi itu kadang-kadang berada dipenghujung kesempatan.Renungkanlah firman Allah di dalam surah al-Asr yang dibahaskan oleh Imam al-Tabari di dalam Tarikh al-Umam wal Muluk nya sebagai waktu sore yang menghampiri kegelapan malam.Asy-Syahid Sayyid Qutub di dalam Tafsir Fi Zilal al-Quran nya ( Tafsir ayat akhir Surah al-Munafiqun ) melihat masa dan haq sebagai fursah atau kesempatan yang perlu direbut dan dibubut.
  • Jangan tunggu haq al-waqt ( peluang masa ) yang dikurniakan pada hari ini sehingga hari esuk.Itu adalah penantian yang membinasakan lantaran Allah tidak menangguhkan masa apabila telah tiba ajalnya.
Abu Hafs r.a. menyatakan ; 
Ertinya : Hamba Allah yang merasa kerdil di hadapan Allah sentiasa berada dalam setiap masa yang ditetapkan serta mengisi kewajipan menurut hokum waktu.Justeru itu apabila dia berdepan dengan kebimbangan dan kegawatan masa,dia amat risau lantas hokum waktu tetap dipeliharanya dengan penuh ketaqwaan.
Sehubungan ini Sahl bin Abdullah r.a. menyarankan :
Mafhumnya : Apabila malam hari telah menjenguk anda,maka janganlah anda fikirkan siang harinya,sehinggalah anda memanfa’atkan malam anda itu.Hendaklah anda menunaikan haq Allah pada malam itu,dan sewajarnya anda membetulkan diri anda dengan bermuhasabah pada malam itu.Apabila anda didatangi pagi hari situasi anda hendaklah sebagaimana anda di malam tadi.
Abu Hafs merumuskan pendirian golongan ‘arifin tentang haq al-waqt :
Maksudnya : Bilakah masanya seorang faqir yang menjalani jalan Allah boleh berehat dan damai ? Jawab Hafs : Apabila dia tidak lagi melihat masa selain hanya masa yang dia berada di dalamnya.

TOKOH SUFI KLASIK IBNU SAMA’ BAHAGIAN 3 : KERANA ALLAH MENUTUPI AIB KAMI



Seorang khalifah Abbasiyah bernama Harun Ar Rasyid mengirim utusan kepada Muhammad bin Samak, seorang penasihat yang tersohor di zamannya. Tatkala Yahya bin Khalid Al Barmaki datang beliau menyambutnya dan mengucapkan salam kepadanya. Lalu berkatalah Yahya :”Sesungguhnya amirul mukminin telah mengutusku kepada anda karena telah sampai kepada beliau tentang kebaikan anda, banyaknya dzikir anda kepada Allah S.W.T dan banyaknya doa anda bagi umat.”

 Maka Ibnu Samak berkata :
”Adapun berita yang telah sampai kepada amirul mukminin tentang kebaikan kami, hal itu semata mata karena Allah menutupi aib kami. Kalau saja Allah menampakkan dosa dosa kami kepada manusia, niscaya tak seorang pun menaruh simpati kepada kami, tak satu pun lisan yang akan memuji kami dan kami khawatir jika kami binasa karenanya dan sedikit syukur kami karenanya.”
 
***
 Sungguh perkataan beliau ini adalah nasehat bagi orang yang mau menerima nasehat, peringatan bagi orang yang mau menerima peringatan, hingga karena berkesannya di hati utusan Ar Rasyid terhadap ungkapan ini maka dia mengambil pena dan kertas untuk menulisnya !

Karena ungkapan tersebut merupakan peringatan kepada manusia akan bahaya suka dipuji dan rela disanjung serta membanggakan diri sendiri, khususnya bagi para da’i yang menyeru manusia kepada yang ma’ruf dan melarang manusia berbuat mungkar.

Gila pupularitas, ambisi tenar dan sum’ah adalah perangkap yang berbahaya, yang sering dihadapi oleh ahli ilmu dan para da’i yang menyeru kepada kebaikan, sehingga pandangan mereka tertuju pada penilaian manusia dan akan menumbuhkan keinginan untuk ujub dan dihormati. Dari pintu inilah masuknya kesombongan dan ujub menuju hati, mengusir tawadhu’ dan kehalusan hatinya, sehingga yang menjadi target baginya adalah menjadi orang yang terpandang di majelis dan diunggulkan dari yang lain.

Ketika itulah seorang da’i telah melepaskan keikhlasan, tawadhu’ dan silau oleh cahaya dan fatamorgana, hingga menyebabkan ucapannya tak berpengaruh dan hilang faedahnya. Tinggallah untaian kata kata indah dan gaya bahasa yang bagus dan yang bersemayam di otaknya adalah keinginan untuk menunjukkan kepandaian dan kecerdasan.

Ibnu Samak sadar betul akan bahaya bahaya tersebut, sehingga beliau berupaya agar tidak terpedaya dengan sanjungan. Beliau tidak rela dikatakan dengan serba baik kendati hal itu ada pada beliau. Bahkan beliau menekankan bahwa dirinya hanyalah manusia biasa seperti yang lain, terkadang salah dan terkadang terjerumus ke dalam dosa, hanya saja Allah S.W.T menutupinya, mungkin karena beliau tidak sengaja melakukannya, tidak terus menerus dalam kesalahan/dosa namun bersegera untuk bertaubat dan istighfar.

Ibnu Samak telah menghayati firman Allah :
“(yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (An Najm : 32)


Beliau memahami bahwa seorang mukmin tidak selayaknya menyanjung dirinya sendiri, tidak suka pula jika dikatakan dengan sifat yang dia tidak berhak menyandangnya secara sempurna. Beliau memiliki uswah bernama Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyalluhu’Anhu yang tatkala mendengar pujian manusia atasnya lalu berkata :”Ya Allah jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka duga tentangku dan ampunilah aku dalam hal yang tidak mereka ketahui tentangku.”

Oleh karena itu, kita pantas bersedih manakala kita melihat pujian yang kelewat batas terhadap para da’i di jalan Allah. Orang orang menyematkan segala sifat kebaikan atas mereka, namun sebagian mereka merasa senang dan rela diperlakukan seperti itu seakan akan itu adalah kebenaran yang telah terlegitimasi atau sesuatu yang telah hakiki dan pasti.

Kita mengharapkan agar para ulama dan da’i di zaman kita ini berpegang dengan manhaj para salaf dalam hal tawadhu’ dan kewaspadaannya terhadap tipu daya. Begitu pula dalam hal kejujuran tatkala menggambarkan untuk mensifatkan dirinya. Karena tiada seorang manusia pun yang maksum melainkan orang orang yang dijaga oleh Allah dari para Nabi dan RasulNya.

Hendaknya kita selalu ingat perkataan Muhammad bin Shabih bin Samak dalam risalah yang beliau tulis untuk saudaranya:

”Wahai saudaraku berapa banyak orang yang menyebut asma Allah namun lupa kepada Allah, berapa banyak yang katanya takut kepada Allah namun berlaku lancang terhadap Allah, berapa banyak orang yang menyeru ke jalan Allah namun ia sendiri lari menjauh dari Allah dan berapa banyak orang yang membaca kitabullah namun menghapus sebagian ayat ayat Allah?”

Itulah penyimpangan yang terjadi dalam perjalanan sejarah kita, sebagaimana banyak menimpa pada orang orang di zaman sekarang sebabnya berbangga dengan apa yang dikatakan, mabuk terhadap popularitas dan ingin terus disanjung dan dipuji. Seluruhnya itu akan membunuh. Semestinya para da’i berhati hati terhadap hal hal tersebut.

TOKOH SUFI KLASIK IBNU SAMA’ BAH 3 : MANUSIA MAKHLUK YANG LEMAH



Pada suatu hari yang amat terik, Khalifah Harun Al-Rasyid mengundang Ibnu Samak, seorang ulama, ke istana di Baghdad untuk meminta fatwa dan nasihatnya. Khalifah meminta pelayannya untuk menyajikan minuman segar untuk Ibnu Samak.

Sebelum meminum, Ibnu Samak bertanya kepada Khalifah, ''Tuan, jika sekiranya seteguk air minum itu sulit diperoleh dan susah mencarinya, sedangkan tuan sudah sangat kehausan, berapakah kiranya seteguk air itu mau tuan hargai?''
''Biar habis setengah kekayaanku, aku mau membelinya,'' ujar Khalifah Harun Al-Rasyid. ''Minumlah tuanku air yang seteguk itu yang kadangkala harganya lebih mahal daripada setengah kekayaan tuanku!'' lanjut Ibnu Samak.
Setelah Khalifah minum, Ibnu Samak pun melanjutkan fatwanya. ''Jika air yang tuan minum tadi tidak mau keluar dari diri tuan, meski sudah bersusah payah berusaha tidak juga mau keluar, berapakah kiranya tuan mau membayar agar air itu dapat keluar?'' tanya Ibnu Samak lagi.
Harun Al-Rasyid menjawab, ''Kalau air itu tidak mau keluar lagi, apalah gunanya kemegahan dan kekayaan ini. Biarlah habis seluruh kekayaanku ini untuk mengobati diriku, sehingga air itu bisa keluar.''
Ibnu Simak melanjutkan pengajarannya, ''Maka tidakkah tuan insyaf, betapa kecil dan lemahnya kita ini. Tibalah saatnya kita tunduk dan patuh serta bersyukur kepada-Nya dan menyadari akan kelemahan diri kita.'' Mendengar fatwa itu Khalifah menangis tersedu.
Subhanallah, sungguh benarlah wasiat Ibnu Samak pada Khalifah Harun Al-Rasyid di atas. Betapa lemahnya manusia. Bagaimanakah seandainya Allah SWT dengan tiba-tiba menghentikan air yang masuk dalam tubuh kita? Atau, menghentikan denyut jatung dan paru-paru, sedangkan kita masih hidup bergelimang dosa. Sungguh kematian itu datang tiba-tiba dengan sebab yang tak terduga.
Betapa kufurnya kita, jika tidak bersyukur kepada Allah SWT, sedangkan hari ini kita masih bisa membuang hajat dengan lancar, bernapas dengan lega, dan jantung masih berdetak dengan teratur. Jika kita menghitung nikmat yang Allah SWT berikan, niscaya tidak akan mampu menghitungnya.
Padahal, Allah SWT telah melengkapi tubuh kita dengan segala perlengkapan, sehingga dapat bertahan hidup dan mencapai kebahagiaan. Tapi terkadang, manusia melalaikan semua itu.
Sampai-sampai Allah SWT berfirman, ''Hai manusia, apakah yang telah memperdaya kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuhmu)-mu seimbang.'' (QS Al-Infithaar (82): 6-7).
Bagi Allah SWT amatlah mudah mencabut nyawa kita kapan saja. Karenanya, kita harus siap menyambut maut dengan iman dan amal yang ikhlas.

TOKOH SUFI KLASIK DAUD ATH THA’I KE 4 : KATA-KATA HIKMAH


Abu Sulayman Daud ibn Nusayr al-Tai al-Kufi [d. 160 atau 165H/783CE] 'alayhi al-rahmah wal-Ridwan

Daud al-Tai alayhir rahman meriwayatkan hadith dari beberapa tabi'in itu dan mengambil fiqh dari Imam Abu Hanifa alayhir rahman yang meramalkan bahawa dia akan mengabdikan diri sepenuhnya kepada menyembah. Ibn Zyad al-Lului katanya, [Abu al-Hudhayl] 'Zufar [ibn al-Hudhayl
​​al-Anbari] [110-158] dan Daud al-Tai al-Kufi pada mulanya adalah rakan sekerja, maka Dawud fiqh tinggal untuk pertapaan manakala Zufar menyertai antara kedua-duanya.

Ibn al-Jawzi dalam 'Sifat al-Safwa' dari yang dipetik semua bahan berikut meriwayatkan bahawa Abu Hanifa berkata kepada Daud: 'Abu Sulayman! Bagi surat cara itu, kita telah menguasai. ' Daud berkata: Apa yang tertinggal?
Abu Hanifa berkata: 'Apa yang tertinggal adalah untuk meletakkan kepada amalan!' Daud berkata: "Apabila saya mendengar ini, jiwa saya dikacau saya untuk pengasingan dan sifat tersendiri, tetapi saya memberitahunya: Duduk dengan mereka selama setahun dan tidak menimbulkan mengintip pada masa itu ' Pada tahun itu, beliau berkata, 'soalan akan datang yang membuatkan saya mengidamkan untuk menjawab lebih daripada air keinginan seseorang kering, tetapi saya tidak akan menjawab.' Selepas satu tahun, beliau pergi ke pengasingan.

Di antara kata-kata Daud:

"Bertakwalah kepada Allah dan memelihara takwa kepada ibu bapa dua anda; cepat dari dunia dan menjadikan kematian sarapan pagi anda; lari daripada orang yang anda akan dari singa, tanpa mencaci mereka tidak meninggalkan jemaah mereka '

'Berpuas hati dengan sedikit dari dunia bersama-sama dengan keselamatan dalam Agama, sama seperti orang duniawi berpuas hati dengan dunia bersama-sama dengan rasuah dalam Agama mereka.'

'Berputus asa adalah akhir semula jadi amalan kita, tetapi hati heret kita berharap.'

'Berhati-hati kalau-kalau Allah mendapati anda di mana Dia melarang anda; berhati-hati kalau-kalau Dia mendapati engkau di mana Dia memerintahkan anda; malu mendekatkan kepada anda dan kuasa-Nya atas kamu.'

'Untuk pelajar yang ingin belajar memanah:

'Memanah baik tetapi hari anda dikira; kelihatan sihat bagaimana anda menghabiskan mereka.'