Rabu, 25 Juli 2012

TOKOH SUFI ABDULLAH AL MUBARAK 5 : KISAH TUKANG KASUT DAN HAJI MABRURNYA

Adalah ulama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi ulama terkenal di makkah yang menceritakan riwayat ini. Suatu ketika,setelah selesai menjalani salah satu amalan haji, ia beristirahat dan tertidur.
Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“tujuh ratus ribu,” jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satu pun”
Percakapan ini membuat Abdullah gemetar. “Apa?” ia menangis dalam mimpinya. “Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas, dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”
Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni . Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”
“Adakah begitu”
“Itu Kehendak Allah”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah, tukang kasut di kota Damsyiq (damaskus sekarang)”
Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun.
Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, Tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria. Sampai disana ia langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya. Hampir semua tukang kasut ditanya, apa memang ada tukang kasut yang namanya Sa’id bin Muhafah.
“Ada, ditepi bandar” Jawab salah seorang tukang kasut sambil menunjukkan arahnya. Sesampai di sana ulama itu menemukan tukang kasut yang berpakaian lusuh,
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu
“Betul, siapa tuan?”
“Aku Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu, tuan adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”
Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaanya, akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.
“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?”
“Wah saya sendiri tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini

Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, aku selalu mendengar
Labbaika Allahumma labbaika.
Labbaika la syarika laka labbaika.
Innal hamda wanni’mata laka wal mulka.
laa syarika laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis
Ya allah aku rindu Mekah
Ya Allah aku rindu melihat kabah
Izinkan aku datang…..ijinkan aku datang ya Allah

Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan wang dari hasil kerja saya, sebagai tukang kasut. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan.
Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji
“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji”
“Benar”
“Apa yang terjadi?”
“Isteri saya hamil, dan sering mengindam . Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?
“ ya sayang”
“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku”
Tuan, lalu sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari rumah usang yang hampir runtuh.
Di situ ada seorang janda dan enam anaknya.
Saya beritahu padanya bahwa isteri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit.
Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya
Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan “ tidak boleh tuan”
“Dijual berapapun akan saya beli”
“ Makanan itu tidak dijual, tuan” katanya sambil berlinang mata .Akhirnya saya tanya kenapa? Sambil menangis, janda itu berkata “daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan” katanya.
Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya, padahal kita sama-sama muslim? Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Di rumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak.
“Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan.” Namun bagi Tuan, daging ini haram”.
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya pulang.
Saya ceritakan kejadian itu pada isteriku, dia pun menangis,
Kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu
“ Ini masakan untuk mu”
Wang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka.” Pakailah wang ini untuk kamu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”

Ya Allah……… disinilah Hajiku

Ya Allah……… disinilah Mekahku.

Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak dapat menahan air mata.

“Kalau begitu engkau memang patut mendapatkannya”

 
Dalam versi lain, ulama itu adalah Hasan Al-Basyri , ulama mesir terkenal. Namun saya lebih mempercayai ulama ini bernama Abdullah bin Mubarak karena riwayatnya yg lebih jelas. Ia lahir pada tahun 118 H/736 M. Ia adalah seorang ahli Hadits yang terkemuka. Ia sangat ahli di dalam berbagai cabang ilmu pengetahuan, antara lain di dalam bidang gramatika dan kesusastraan. Ia adalah seorang saudagar kaya yang banyak memberi bantuan kepada orang-orang miskin. Ia meninggal dunia di kota Hit yang terletak di tepi sungai Euphrat pada tahun 181 H/797. Allah yang lebih tahu.
Dalam riwayat lain tukang sepatu ini bernama Ali bin Mowaffaq.

TOKOH SUFI ABDULLAH AL MUBARAK 4: KISAH ABDULLAH AL MUBARAK DENGAN FUDHAIL BIN ’IYAD

Ibnu al-Mubarak atau nama sebenarnya Abdullah al-Mubarak merupakan seorang Imam Besar, Pendakwah, Mujahid, Ulamak yang zuhud, yang sentiasa merindui Jihad dan syahid pada jalan Allah s.w.t. hingga menemui syahid beliau pada tahun 181 Hijrah di هيت”. Ayahnya al-Mubarak pula adalah seorang yang sangat beramanah pada masa beliau menjadi pekerja kepada sebuah ladang epal tuannya sehingga beliau tidak pernah merasai epal tersebut. Hanya menjaganya sahaja. Lalu dengan kehebatan amanah dan kesolehan Mubarak itu, maka beliau dikahwinkan dengan puteri tuannya iaitu seorang gadis yang sangat solehah, memahami sunnah dan taat kepada perintah Allah s.w.t. Maka lahirlah zuriat yang hebat daripada mereka iaitu Abdullah al-Mubarak.

Antara kisahnya yang masyhur telah dirakamkan di dalam Tafsir Ibnu Kathir ialah bait-bait syair yang telah dihantar melalui sepucuk surat kepada Fudhail bin 'Iyad yang merupakan seorang 'Abid yang sangat terkenal dengan ibadahnya yang hebat sehingga beliau digelar sebagai Ahli Ibadah bagi dua tanah Haram. Kandungan surat tersebut sangat menyentuh jiwa Fudhail hingga beliau menangis dan mara bersama tentera Islam yang sedang berperang ketika itu.
Surat yang dihantar oleh Ibnu al-Mubarak kepada Fudhai bin 'Iyad.
“ Wahai ahli ibadah di dua Tanah Haram,
Kalaulah kamu telah menyaksikan kami,
Maka kamu akan mengetahui bahawa sesungguhnya
Seolah-olah kamu telah bermain-main dalam ibadah,
Kalau orang-orang membasahi pipinya dengan air mata yang mengalir deras
Maka dengan pengorbanan kami, kami mengalirkan darah yang lebih deras,
ataupun kuda-kuda ia kepenatan di dalam perkara batil,
Maka kuda-kuda kami penat dalam melakukan penyerbuan dan peperangan,
Bau wangi-wangian menjadi milikmu,
Sedangkan bau wangi-wangian kami adalah debu-debu di jalanan,
dan sesungguhnya telah datang kepada kami sabda nabi s.a.w.,
Sabda yang benar jujur dan tidak ada kebohongan
Tidaklah sama debu kuda-kuda Allah di hidung seseorang dan asap neraka yang menyala-nyala,
Inilah kitab Allah yang berbicara kepada kami,
Bahawa orang mati syahid tidaklah sama dengan orang yang mati biasa,
Ia tidak akan berbohong”.

TOKOH SUFI ABDULLAH AL MUBARAK 3: ABDULLAH AL MUBARAK DAN HAMBANYA

Abdullah mempunyai hamba. Seorang lelaki berkata kepadanya, "Bahawa hamba kamu mati dan memberikan kamu bebanan " Maklumat ini memberi bermasalah kepada Abdullah. Satu malam, dia mengkuiti pergerakan tumit hambanyaitu . Dia pergi ke tanah perkuburan dan membuka sebuah kubur. Dalam kubur ada suatu doa yang khusus, di mana hamba berdiri pada sembahyang. Abd Allah, melihat semua ini dari jauh, merangkak lebih dekat. Dia melihat bahawa hamba telah memakai kain berkabung dan telah meletakkannya keliling lehernya. Menggosok mukanya di bumi, dia telah meraung. Memerhati ini, Abd Allah merangkak jauh menangis dan duduk di satu sudut. Hamba kekal di tempat itu sehingga waktu subuh. Kemudian dia bangun dari tempat kubur, dan terus menuju ke masjid untuk solat subuh dan berkata, "Ya Tuhan ku," dia merayu, " hari telah kembali. tuan duniawi saya akan meminta wang daripada saya. Engkau yang membri kekayaan yang memberi muflis. Engkau berilah  kepada ku daripada Engkau, Engkau lebih mengetahui. " Serta-merta cahaya bersinar di langit, dan perak dirham jatuh ke dalam tangan hamba. Abd Allah tidak sabar menanggung menonton kejadian ajaib ini. Lalu Beliau bangun dan mengambil  hambanya kepangkuannya beliau lalu menciumnya.
"Se ribu nyawa menjadi tebusan kepada hamba!" Katanya berseru. "Anda adalah tuan, bukan saya."
"Ya Allah," lalu hamba ku  menangis, melihat apa yang telah berlaku, "Sekarang pekung diri saya telah dilucutkan dan rahsia saya diketahui  tiada rehatnya yang lebih kekal bagi saya dalam dunia ini. Saya merayu kepada Mu dengan keperkasaan dan kemuliaan Engkau, saya menderita menjadi punca tersandung. Ambilah diri jiwa. saya " Kepalanya masih berbaring di pangkuan Abd Allah setelah selesai ia berkata-kata. Abd Allah meletakkan dia k dan dibalut , maka dia dikebumikannya sama kain kabung dalam kubur itu. Malam itu Abd Allah melihat raja dunia dalam mimpi, dan Rakan Allah,  Ibrahim datang menunggang kuda dari syurga.
"Abd Allah," kata mereka, "kenapa anda mengebumikan rakan kami dalam kain guni? "

 

TOKOH SUFI ABDULLAH AL MUBARAK 2: ABDULLAH AL MUBARAK DAN ALI IBN AL MAWAFFAQ

Abdullah tinggal di Mekah. Satu tahun, setelah menyiapkan upacara-upacara haji, beliau tertidur. Dalam satu bermimpi dia melihat dua malaikat turun dari langit. "Berapa banyak yang datang tahun ini?"  malaikat bertanya kepada lain.
"Enam ratus ribu," yang lain menjawab.
"Berapa ramai yang telah haji mereka diterima?"
"Tidak ada satu."
"Apabila saya mendengar ini," Abdullah melaporkan, "Saya telah menjadi menggeletar. 'Apa?' Saya menangis. 'Semua orang  datang dari jauh daripada hujung yang jauh di bumi dan dengan kesakitan dan keletihan dari jurang setiap dalam, menyeberangi padang pasir yang luas, dan semua haji mereka adalah sia-sia? '
'Terdapat tukang kasut di Damsyik yang dipanggil Ali ibn Mowaffaq, " kata malaikat itu. "Dia tidak datang pada haji, tetapi haji beliau diterima dan semua dosa-dosa telah diampunkan. '
"Apabila saya mendengar ini," Abdullah terus berkata, "Saya bangun dan  berkata, 'Saya mesti pergi ke Damsyik dan menziarahi orang itu.' Jadi saya pergi ke Damsyik dan mencari di mana dia berada Saya menjerit, dan seseorang datang. 'Apakah nama anda? 'Saya bertanya. 'Ali ibn Mowaffaq,' dia menjawab. 'Saya ingin untuk bercakap dengan anda, ' kata saya. 'Katakanlah (wahai Muhammad) di atas,' dia menjawab. 'Apa kerja yang anda lakukan? '' Saya pekerja buruh kasar. Saya kemudian memberitahu dia impian. saya 'Apakah nama anda?', Dia bertanya kepada saya 'Abd Allah-e Mobarak,' Saya menjawab. Beliau melafaz sepatah kata lalu menangis dan jatuh pingsan . Apabila dia pulih, saya  berkata kepadanya,
'Beritahu saya kisah anda.' "Lelaki itu memberitahu saya, ' tiga puluh tahun saya rindu untuk membuat haji. Saya telah menyimpan sehingga tiga ratus lima puluh dirham dari simpanan saya. Tahun ini saya telah memutuskan untuk pergi ke Mekah. Satu hari wanita yang baik hamil, dia terbau bau makanan datang dari pintu depan. "Pergilah dan ambil sedikit makanan itu untuk saya , "katanya merayu kepada saya. Saya pergi dan mengetuk pintu jiran dan menjelaskan keadaan ini.
Jiran Saya berderai air mata dan berkata. "Anak-anak saya tiada makan apa-apa jua selama tiga hari , "katanya. "Hari ini saya melihat keldai terbaring mati, jadi saya mengambil secebis dan memasaknya. Ia tidak akan menjadi makanan halal bagi kamu. "Hati saya  bagaikan terbakar apabila saya mendengar kisah beliau. Saya mengambil wang 350 dirham dan memberikan mereka kepadanya. "Belanja ini ke atas kanak-kanak kamu," kata saya. "Ini adalah haji saya.” "Malaikat bercakap benar-benar di dalam mimpi saya," Abd Allah diistiharkan Raja Syurgawi adalah benar dalam penghakiman-Nya."

TOKOH SUFI ABDULLAH AL MUBARAK 1: KISAH PERJALANAN RUHANINYA

ABDULLAH IBN AL MUBARAK

ABU Abd Al-Rahman Abdullah Ibn Al Mubarak Al-Hanzali Al-Marwazi lahir tahun 118 H [736 M], dari bapak berkebangsaan Turki dan ibu asli Persia. Ia dikenal sebagai penulis Hadis dan sufi yang masyhur. Ia belajar dari berbagai guru di Merv dan lain-lain serta cukup piawai dalam beragam cabang ilmu pengetahuan, termasuk tata bahasa [gramatika] dan sastra. Ia dikenal juga sebagai pedagang kaya yang suka mendermakan hartanya kepada orang miskin. Pada tahun 181 H [797 M] ia wafat di kota Hit di sungai Eufrat.

Dikisahkan apabila hampir beliau hendak wafat, Abdullah membahagi-bahagikan harta bendanya kepada orang-orang miskin.
Apabila ditanya apakah yang ditingglkanya untuk tiga anak perempuannya yang masih hidup itu, Abdullah menjawab, “Allah.”
Satu dari sekian karyanya tentang Hadis bertemakan zauq, hingga kini masih terpelihara.

Perjalanan Ruhaninya

Perjalanan ruhani Abdullah Ibn Al Mubarak berawal dengan kisah berikut. Ia sangat terpikat pada seorang gadis sehingga jiwanya tidak merasa tenang. Tiap malam selama musim dingin ia menyempatkan diri untuk berdiri menanti sang pujaan hati di bawah tembok apartemennya, hanya sekadar untuk menanyangkan pandang. Suatu malam yang berselimut salju, ia menyangka azan yang terdengar adalah tanda waktu shalat Isya’. Namun, ketika sadar bahwa hari telah fajar, ia menyadari bahwa dirinya hanyut dalam penantian kekasih sepanjang malam karena kerinduan yang menyesakkan dada. “Tidak malukah engkau pada dirimu sendiri?” teriaknya pada diri sendiri. “Sepanjang malam yang penuh berkah ini hanya kau habiskan untuk mereguk dan menuruti nafsu belaka, tetapi dikala Imam membacakan satu surat dalam shalat hatimu bergolak.” Sejak kala itu, perasaan takut menjalar di sekujur tubuhnya sehingga ia bertobat dan menyibukkan diri dengan ibadah. Saking rajin dan tekun ia ibadah, maka keadaan sekitar sering terabaikan. Suatu hari, sang ibu memasuki kebun dan menjumpai sang anak tengah terlelap di bawah semak bunga mawar, sementara seekor ular dengan lidah yang menjulur berlalu darinya.
Sejak itu ia meninggalkan Merv dan pergi menuju Baghdad untuk bergabung dengan guruguru tasawuf. Merasa cukup berguru di Baghdad, ia lantas melanjutkan perjalanannya menuju Mekah yang disinggahinya untuk sementara waktu. Tatkala kembali dari Mekah, ia memperoleh sambutan dari warganya yang mengelu-elukannya. Di Merv, ia mendirikan kelompok-kelompok pengajian. Saat itu, setengah warga Merv adalah pengikut Hadis, sedang setengahnya lagi adalah pengikut Fikih. Abdullah yang merangkul kedua aliran dan disetujui para pengikutnya. Sejak saat itu, ia dikenal dengan julukan “Perangkul Dua Aliran”. Ia memang mendirikan dua perguruan di Merv, yakni perguruan Hadis dan Fikih. Kemudian ia pergi lagi ke Hijaz dan berdiam di Mekah. Pada tahun-tahun tertentu, ia pasti menunaikan ibadah haji dan turut serta dalam kancah peperangan, sedang pada tahun ketiga, ia terlibat dalam dunia perdagangan. Hasil keuntungan dari perdagangannya ia bagikan kepada para pengikutnya. Ia sering juga memberi derma kurma kepada orang miskin seraya menghitung jumlah biji kurma yang dilahap mereka. Siapa yang memakan lebih banyak kurma, ia akan memberi imbalan satu dirham untuk setiap kurma. Kesalehannya tergambar dalam kisah sebuah kedai. Ia menambatkan kudanya yang mahal di kedai ketika hendak menunaikan shalat. Namun, kuda itu malah menjelajah pergi ke ladang gandum. Abdullah tak memperdulikan ulah kudanya yang melanjutkan perjalanan dengan langkah kaki seraya berkata, “Aku biarkan ia mereguk kebebasannya.”
Di saat lain, ia teguhkan diri untuk merambah jalan dari Merv ke Damaskus hanya sekadar untuk mengembalikan pena yang ia pinjam dari temannya. Suatu hari Abdullah tengah meniti jalan menuju suatu tempat. Diberitakan bahwa ada seorang buta tinggal di tempat itu. Ia disarankan untuk meminta apa pun yang dikehendaki. Oleh karenanya, ia segera menegur Abdullah. “Abdullah, singgahlah di rumahku!” Setelah Abdullah singgah di rumah itu, penghuni rumah itu mengajukan permohonan, “Tolong doakan agar penglihatanku kembali normal.” Abdullah menundukkan kepalanya seraya memanjatkan doa. Seketika itu pula si buta menemukan kembali pandangannya. Abdullah Ibn Al Mubarak dan Ali Ibn Al-Muwaffaq Abdullah tinggal di Mekkah selama satu tahun. Setelah menyempurnakan ibadah hajinya, ia terlelap tidur dan berbunga mimpi.
Dalam mimpi itu ia melihat dua malaikat turun dari langit. “Berapa orang yang menunaikan ibadah haji tahun ini?” salah satu malaikat itu mengajukan pertanyaan. “Enam ratus ribu orang,” yang lain menjawab. “Berapa orang yang ibadah hajinya diterima?” “Tidak ada.” “Ketika aku mendengar jawaban itu,” demikian kata Abdullah, “badanku terasa bergertar. “Apa?” tanyaku. “Orang-orang itu datang dari jauh menempuh perjalanan yang sarat dengan derita maupun dengan merentas padang pasir yang ganas, namun perbuatan mereka sia-sia belaka?” Malaikat itu menyahut, “Ada seorang tukang sepatu di Damaskus bernama Ali Ibn Al-Muwaffaq.
Ia memang tidak menunaikan ibadah haji, namun, hajinya dikabulkan, sementara dosanya dimaafkan.” “Usai mendengar jawaban itu,” lanjut Abdullah, “Aku bangkit seraya berkata, ‘Aku harus ke Damaskus untuk menjumpai orang itu’. Sesampai di Damaskus, aku bertanya kepada seseorang, “Siapa namamu?” jawabnya, ‘”Ali ibn Al-Muwaffaq.” tanyaku selanjutnya, “Boleh aku berbicara denganmu?” “Boleh saja,” katanya. “Apa pekerjaanmu?” “Tukang sepatu.” Kemudian aku menuturkan mimpi yang aku alami kepadanya. Dia lantas bertanya, “Siapa namamu?” “Abdullah Ibn Al Mubarak.” Begitu mendengar nama yang kusebutkan, ia jatuh pingsan tak sadarkan diri. Ketika siuman, aku berkata padanya, “Coba ceritakan kisahmu.” “Aku telah menabung sedikit demi sedikit dari jerih payahku sebagai tukang sepatu, dan saat itu tabunganku tetap berjumlah 350 dirham,” ia mengisahkan. “Sejak 30 tahun yang lalu, aku berniat untuk menunaikan ibadah haji. Aku telah mempunyai tabungan sebanyak 350 dirham dari jerih payahku sebagai tukang sepatu. Sebenarnya tahun ini aku hendak berangkat ke Mekah. Namun, suatu hari, seorang gadis cantik [baik] yang menabur aroma dari rumah seberang merajuk padaku,
 “Tolong mintakan makanan dari rumah seberang itu.” Aku segera pergi ke tetangga itu dan mengatakan maksud hatinya. Namun, tetanggaku justeru meneteskan air mata seraya berkata, “Anak-anakku telah tiga hari ini tidak makan apa pun. Maka tatkala aku melihat sebujur bangkai keledai, aku memotong-motong dagingnya dan memasaknya. Tentu saja daging itu tidak halal bagimu.” Mendengar pernyataan itu, hatiku terasa dibakar. Lantas aku ambil uangku yang berjumlah 350 dirham dan aku berikan semuanya kepada wanita itu. Kataku, “Pakailah untuk memberi nafkah anak-anakmu. Mungkin inilah hajiku.” Mendengar penuturan kisah itu Abdullah memberi komentar, “Malaikat yang terlihat dalam mimpi itu sebenarnya berbicara dari Allah, Penguasa langit pasti memberikan pengadilan yang benar.” Abdullah Ibn Al Mubarak dengan Pelayannya Seseorang melaporkan kepada Abdullah Ibn Al Mubarak tentang pelayannya. “Pelayanmu mencuri orang mati dan memberikan hasilnya kepadamu.” Berita itu membuat hati Abdullah berduka. Karenanya, suatu malam ia mengikuti jejak sang pelayan yang tengah pergi menuju kuburan. Sesampai di tempat itu ia mendapatkan sang pelayan membuka makam, memasukinya dan duduk di atas papan lalu shalat di dalamnya. Melihat kejadian itu dari kejauhan, Abdullah merangkak ke depan agar dapat melihat lebih dekat lagi. Dilihatnya sang pelayan mengenakan kain sarung dan seutas tali dililitkan di lehernya. Sambil menggosok-gosokkan mukanya ke tanah, pelayan itu meratap. Abdullah pun terenyuh sambil meneteskan air mata. Ia duduk di pojok yang lain. Pelayan itu tetap bertahan di tempat itu hingga datang fajar. Kemudian ia bangkit dari makam itu, menutupnya, dan pergi menuju Masjid untuk menunaikan shalat subuh. “Ya Allah,” keluh pelayan itu, “pagi nyaris menjelang. Tuanku pasti akan menagih uang. Namun, Engkau Maha Kaya untuk menolong orang yang sulit. Karena itu, beri aku uang untuk menutup kesulitanku dari mana pun yang Engkau kehendaki.” Tiba-tiba seberkas sinar memancar dari langit dan seperak dirham jatuh ke tangan pelayan itu. Tanpa basa-basi, Abdullah bangkit dan mendekap pelayan itu serta menciumnya. “Seribu kehidupan telah engkau reguk,” pekik Abdullah. “Oleh sebab itu, engkaulah tuan, bukan aku.” Mengetahui peristiwa yang terjadi, pelayan itu pun berseru, “Ya Allah, kini tabirku telah tersingkap, sehingga tak tersisa lagi saat tenang dan tenteram bagiku di dunia ini. Aku memohon dengan segala kebesaran dan keagungan-Mu agar Engkau tak membebaniku sebagai biang kesalahan. Ambillah nyawaku.” Tatkala ia menghembuskan nafas yang terakhir, ia masih menempel dalam pelukan Abdullah. Usai mengkafaninya, dengan selayaknya, Abdullah menguburkan jenazah pelayannya itu di tempat pemakaman yang sama. Malam itu juga Abdullah bermimpi melihat Nabi Muhammad Saw disertai dengan karib Allah, Nabi Ibrahim yang mengendarai kuda dan bertanya, “Abdullah mengapa engkau menguburkan sahabat kami dengan kain sarung?”

Abdullah Ibn Al Mubarak berkata:
Orang yang bekerja kerana Allah itu tidak akan eprnah tersiksa
Pencilkan dirimu dari manusia
Orang yang melakukan sesuatu hari ini dan itu dilakukan oleh orang bodoh tiga hari kemudian, adalah orang yang bijak

Senin, 23 Juli 2012

SYARAH HIKAM IBN ATA’ILLAH N0 3: KETEGUHAN BENTENG TAKDIR

SYARAH VERSI TO’ FAKIR AN NASIRIN
 
KEKUATAN SEMANGAT (AZAM, CITA-CITA, IKHTIAR) TIDAK BERUPAYA MEMECAHKAN BENTENG TAKDIR.
 
Kalam Hikmat yang pertama menyentuh tentang hakikat amal yang membawa kepada pengertian tentang amal zahir dan amal batin. Ia mengajak kita memerhatikan amal batin (suasana hati) berhubung dengan amal zahir yang kita lakukan. Sebagai manusia biasa hati kita cenderung untuk menaruh harapan dan meletakkan pergantungan kepada keberkesanan amal zahir. Hikmat kedua memperjelaskan mengenainya dengan membuka pandangan kita kepada suasana asbab dan tajrid. Bersandar kepada amal terjadi kerana seseorang itu melihat kepada keberkesanan sebab dalam melahirkan akibat. Apabila terlepas daripada waham sebab musabab baharulah seseorang itu masuk kepada suasana tajrid.
 
Dua Hikmat yang lalu telah memberi pendidikan yang halus kepada jiwa. Seseorang itu mendapat kefahaman bahawa bersandar kepada amal bukanlah jalannya. Pengertian yang demikian melahirkan kecenderungan untuk menyerah bulat-bulat kepada Allah s.w.t. Sikap menyerah tanpa persediaan kerohanian boleh menggoncangkan iman. Agar orang yang sedang meninggi semangatnya tidak terkeliru memilih jalan, dia diberi pengertian mengenai kedudukan asbab dan tajrid. Pemahaman tentang makam asbab dan tajrid membuat seseorang mendidik jiwanya agar menyerah kepada Allah s.w.t dengan cara yang betul dan selamat bukan menyerah dengan cara yang melulu.
 
Hikmat ke tiga ini pula mengajak kita merenung kepada kekuatan benteng takdir yang memagar segala sesuatu. Ketika membincangkan tentang ahli tajrid, kita dapati ahli tajrid melihat kepada kekuasaan Tuhan yang meletakkan keberkesanan kepada sesuatu sebab dan menetapkannya dalam melahirkan akibat Ini bermakna semua kejadian dan segala hukum mengenai sesuatu perkara berada di dalam pentadbiran Allah s.w.t. Dia yang menguasai, mengatur dan mengurus setiap makhluk-Nya. Urusan ketuhanan yang menguasai, mengatur dan mengurus atau suasana pentadbiran Allah s.w.t itu dinamakan takdir. Tidak ada sesuatu yang tidak dikuasai, diatur dan diurus oleh Allah s.w.t. Oleh itu tidak ada sesuatu yang tidak termasuk di dalam takdir.
 
Manusia terhijab daripada memandang kepada takdir kerana waham sebab musabab. Kedirian seseorang menjadi alat sebab musabab yang paling berkesan menghijab pandangan hati daripada melihat kepada takdir. Keinginan, cita-cita, angan-angan, semangat, akal fikiran dan usaha menutupi hati daripada melihat kepada kekuasaan, aturan dan urusan Tuhan. Hijab kedirian itu jika disimpulkan ia boleh dilihat sebagai hijab nafsu dan hijab akal. Nafsu yang melahirkan keinginan, cita-cita, angan-angan dan semangat. Akal menjadi tentera nafsu, menimbang, merancang dan mengadakan usaha dalam menjayakan apa yang dicetuskan oleh nafsu. Jika nafsu inginkan sesuatu yang baik, akal bergerak kepada kebaikan itu. Jika nafsu inginkan sesuatu yang buruk, akal itu juga yang bergerak kepada keburukan. Dalam banyak perkara akal tunduk kepada arahan nafsu, bukan menjadi penasihat nafsu. Oleh sebab itulah di dalam menundukkan nafsu tidak boleh meminta pertolongan akal.
 
Dalam proses memperolehi penyerahan secara menyeluruh kepada Allah s.w.t terlebih dahulu akal dan nafsu perlu ditundukkan kepada kekuatan takdir. Akal mesti mengakui kelemahannya di dalam membuka simpulan takdir. Nafsu mesti menerima hakikat kelemahan akal dalam perkara tersebut dan ikut tunduk bersama-samanya. Bila nafsu dan akal sudah tunduk baharulah hati boleh beriman dengan sebenarnya kepada takdir.
 
Beriman kepada takdir seharusnya melahirkan penyerahan secara berpengetahuan bukan menyerah kepada kejahilan. Orang yang jahil tentang hukum dan perjalanan takdir tidak dapat berserah diri dengan sebenarnya kepada Allah s.w.t kerana disebalik kejahilannya itulah nafsu akan menggunakan akal untuk menimbulkan keraguan terhadap Allah s.w.t. Rohani orang yang jahil dengan hakikat takdir itu masih terikat dengan sifat-sifat kemanusiaan biasa. Dia masih melihat bahawa makhluk boleh mendatangkan kesan kepada kehidupannya. Tindakan orang lain dan kejadian-kejadian sering mengacau jiwanya. Keadaan yang demikian menyebabkan dia tidak dapat bertahan untuk terus berserah diri kepada Tuhan. Sekiranya dia memahami tentang hukum dan peraturan Tuhan dalam perkara takdir tentu dia dapat bertahan dengan iman. Hadis menceritakan tentang takdir:
Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah s.a.w, “Wahai Rasulullah, apakah iman?” Jawab Rasulullah s.a.w, “Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya dan Hari Kemudian. Juga engkau beriman dengan Qadar baiknya, buruknya, manisnya dan pahitnya adalah dari Allah s.w.t”. { Maksud Hadis }
 
Pandangan kita sering keliru dalam memandang kepada takdir yang berlaku. Kita dikelirukan oleh istilah-istilah yang biasa kita dengar Kita cenderung untuk merasakan seolah-olah Allah s.w.t hanya menentukan yang asas sahaja sementara yang halus-halus ditentukan-Nya kemudian iaitu seolah-olah Dia Melihat dan Mengkaji perkara yang berbangkit baharulah Dia membuat keputusan. Kita merasakan apabila kita berjuang dengan semangat yang gigih untuk mengubah perkara dasar yang telah Allah s.w.t tetapkan dan Dia Melihat kegigihan kita itu dan bersimpati dengan kita lalu Dia pun membuat ketentuan baharu supaya terlaksana takdir baharu yang sesuai dengan perjuangan kita. Kita merasakan kehendak dan tadbir kita berada di hadapan sementara Kehendak dan Tadbir Allah s.w.t mengikut di belakang. Anggapan dan perasaan yang demikian boleh membawa kepada kesesatan dan kederhakaan yang besar kerana kita meletakkan diri kita pada taraf Tuhan dan Tuhan pula kita letakkan pada taraf hamba yang menurut telunjuk kita. Bagi menjauhkan diri daripada kesesatan dan kederhakaan yang besar itu kita perlu sangat memahami soal sunnatullah atau ketentuan Allah s.w.t. Segala kejadian berlaku menurut ketentuan dan pentadbiran Allah s.w.t. Tidak ada yang berlaku secara kebetulan. Ilmu Allah s.w.t meliputi yang awal dan yang akhir, yang azali dan yang abadi. Apa yang dizahirkan dan apa yang terjadi telah ada pada Ilmu-Nya.
 
Tidak ada sesuatu kesusahan (atau bala bencana) yang ditimpakan di bumi, dan tidak juga yang menimpa diri kamu, melainkan telah sedia ada di dalam Kitab (pengetahuan Kami) sebelum Kami menjadikannya; sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Ayat 22 : Surah al-Hadiid)
 
Maha Berkat (serta Maha Tinggilah kelebihan) Tuhan yang menguasai pemerintahan (dunia dan akhirat); dan memanglah Ia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu; - ( Ayat 1 : Surah al-Mulk )
 
Dan Yang telah mengatur (keadaan makhluk-makhluk-Nya) serta memberikan hidayah petunjuk (ke jalan keselamatannya dan kesempurnaannya); ( Ayat 3 : Surah al-A’laa)
  
Dan Kami jadikan bumi memancarkan mataair-mataair (di sana sini), lalu bertemulah air (langit dan bumi) itu untuk (melakukan) satu perkara yang telah ditetapkan. ( Ayat 12 : Surah al-Qamar )
 
Segala perkara, tidak kira apa istilah yang digunakan, adalah termasuk dalam ketentuan Allah s.w.t. Apa yang kita istilahkan sebagai perjuangan, ikhtiar, doa, kekeramatan, mukjizat dan lain-lain semuanya adalah ketentuan Allah s.w.t. Pagar takdir mengelilingi segala-galanya dan tidak ada sebesar zarah pun yang mampu menembusi benteng takdir yang maha teguh. Tidak terjadi perjuangan dan ikhtiar melainkan perjuangan dan ikhtiar tersebut telah ada dalam pagar takdir. Tidak berdoa orang yang berdoa melainkan halnya berdoa itu adalah takdir untuknya yang sesuai dengan ketentuan Allah s.w.t untuknya. Perkara yang didoakan juga tidak lari daripada sempadan ketentuan Allah s.w.t. Tidak berlaku kekeramatan dan mukjizat melainkan kekeramatan dan mukjizat itu adalah takdir yang tidak menyimpang daripada pentadbiran Allah s.w.t. Tidak menghirup satu nafas atau berdenyut satu nadi melainkan ianya adalah takdir yang menzahirkan urusan Allah s.w.t pada azali.
 
Kami datang dari Allah dan kepada Allah kami kembali.
Segala perkara datangnya dari Allah s.w.t atau Dia yang mengadakan ketentuan tanpa campurtangan sesiapa pun. Segala perkara kembali kepada-Nya kerana Dialah yang mempastikan hukum ketentuan-Nya terlaksana tanpa sesiapa pun mampu menyekat urusan-Nya.
 
Apabila sudah difahami bahawa usaha, ikhtiar, menyerah diri dan segala-galanya adalah takdir yang menurut ketentuan Allah s.w.t, maka seseorang itu tidak lagi berasa bingung sama ada mahu berikhtiar atau menyerah diri. Ikhtiar dan berserah diri sama-sama berada di dalam pagar takdir. Jika seseorang menyedari makamnya sama ada asbab atau tajrid maka dia hanya perlu bertindak sesuai dengan makamnya. Ahli asbab perlu berusaha dengan gigih menurut keadaan hukum sebab-akibat. Apa juga hasil yang muncul dari usahanya diterimanya dengan senang hati kerana dia tahu hasil itu juga adalah takdir yang ditadbir oleh Allah s.w.t. Jika hasilnya baik dia akan bersyukur kerana dia tahu bahawa kebaikan itu datangnya dari Allah s.w.t. Jika tidak ada ketentuan baik untuknya nescaya tidak mungkin dia mendapat kebaikan. Jika hasil yang buruk pula sampai kepadanya dia akan bersabar kerana dia tahu apa yang datang kepadanya itu adalah menurut ketentuan Allah bukan tunduk kepada usaha dan ikhtiarnya. Walaupun hasil yang tidak sesuai dengan seleranya datang kepadanya tetapi usaha baik yang dilakukannya tetap diberi pahala dan keberkatan oleh Allah s.w.t sekiranya dia bersabar dan rela dengan apa juga takdir yang sampai kepadanya itu.
 
Ahli tajrid pula hendaklah reda dengan suasana kehidupannya dan tetap yakin dengan jaminan Allah s.w.t. Dia tidak harus merungut jika terjadi kekurangan pada rezekinya atau kesusahan menimpanya. Suasana kehidupannya adalah takdir yang sesuai dengan apa yang Allah s.w.t tentukan. Rezeki yang sampai kepadanya adalah juga ketentuan Allah s.w.t. Jika terjadi kekurangan atau kesusahan maka ia juga masih lagi di dalam pagar takdir yang ditentukan oleh Allah s.w.t. Begitu juga jika terjadi keberkatan dan kekeramatan pada dirinya dia harus melihat itu sebagai takdir yang menjadi bahagiannya.
 
Persoalan takdir berkait rapat dengan persoalan hakikat. Hakikat membawa pandangan daripada yang banyak kepada yang satu. Perhatikan kepada sebiji benih kacang. Setelah ditanam benih yang kecil itu akan tumbuh dengan sempurna, mengeluarkan beberapa banyak buah kacang. Buah kacang tersebut dijadikan pula benih untuk menumbuhkan pokok-pokok kacang yang lain. Begitulah seterusnya sehingga kacang yang bermula dari satu biji benih menjadi jutaan juta kacang. Kacang yang sejuta tidak ada bezanya dengan kacang yang pertama. Benih kacang yang pertama itu bukan sahaja berkemampuan untuk menjadi sebatang pokok kacang, malah ia mampu mengeluarkan semua generasi kacang sehingga hari kiamat. Ia hanya boleh mengeluarkan kacang, tidak benda lain.
 
Kajian akal boleh memperakui bahawa semua kacang mempunyai zat yang sama, iaitu zat kacang. Zat kacang pada benih pertama serupa dengan zat kacang pada yang ke satu juta malah ia adalah zat yang sama atau yang satu. Zat kacang yang satu itulah ‘bergerak’ pada semua kacang, mempastikan yang kacang akan menjadi kacang, tidak menjadi benda lain. Walaupun diperakui kewujudan zat kacang yang mengawal pertumbuhan kacang namun, zat kacang itu tidak mungkin ditemui pada mana-mana kacang. Ia tidak berupa dan tidak mendiami mana-mana kacang, tetapi ia tidak berpisah dengan mana-mana kacang. Tanpanya tidak mungkin ada kewujudan kacang. Zat kacang ini dinamakan “Hakikat Kacang”. Ia adalah suasana ketuhanan yang mentadbir dan mengawal seluruh pertumbuhan kacang dari permulaan hingga kesudahan, sampai ke hari kiamat. Hakikat Kacang inilah suasana pentadbiran Allah s.w.t yang Dia telah tentukan untuk semua kejadian kacang. Apa sahaja yang dikuasai oleh Hakikat Kacang tidak ada pilihan kecuali menjadi kacang.
 
Suasana pentadbiran Allah s.w.t yang mentadbir dan mengawal kewujudan keturunan manusia pula dinamakan “Hakikat Manusia” atau “Hakikat Insan”. Allah s.w.t telah menciptakan manusia yang pertama, iaitu Adam a.s menurut Hakikat Insan yang ada pada sisi-Nya. Pada kejadian Adam a.s itu telah disimpankan bakat dan keupayaan untuk melahirkan semua keturunan manusia sehingga hari kiamat. Manusia akan tetap melahirkan manusia kerana hakikat yang menguasainya adalah Hakikat Manusia.
 
Pada Hakikat Manusia itu ada hakikat yang menguasai satu individu manusia dan hubungkaitnya dengan segala kejadian alam yang lain. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Nabi” pasti menjadi nabi. Seorang manusia yang berhakikatkan “Hakikat Wali” pasti akan menjadi wali. Suasana pentadbiran Allah s.w.t atau hakikat itu menguasai roh yang berkaitan dengannya. Roh bekerja mempamerkan segala maklumat yang ada dengan hakikat yang menguasainya. Kerja roh adalah menjalankan urusan Allah s.w.t iaitu menyatakan hakikat yang ada pada sisi Allah s.w.t.
 
Dan katakan: “ Roh itu dari perkara urusan Tuhanku”. ( Ayat 85 : Surah Al-Israa’ )
 
Pentadbiran Allah s.w.t menguasai roh dan mengheret roh kepada mempamerkan ketentuan-Nya yang berada pada azali. Allah s.w.t telah menentukan hakikat sesuatu sejak azali lagi. Tidak ada perubahan pada ketentuan Allah s.w.t. Segala sesuatu dikawal oleh hakikat yang pada sisi Allah s.w.t. Unta tidak boleh meminta menjadi kambing. Beruk tidak boleh meminta menjadi manusia. Manusia tidak boleh meminta menjadi malaikat. Segala ketentuan telah diputuskan oleh Allah s.w.t.
 
 

AL HIKAM IBN ATA’ILLAH NO 3: SYARAH IBN ABBAD AL RUNDI MESIR

VERSI IBN ABBAD AL RUNDI 

3 Memutuskan bahawa Himmah yang kuat tidak menembusi dinding takdir.

Ini menerangkan lebih Hikmayang lepas dan memperkenalkansatu.
Penentuan dan Memutuskan (kuasa-kuasa niat rohanibahawa, melalui kehendak Allah, membawa kepada tindakan,yang mungkin muncul sebagai keajaiban atau mukjizat[waleyy]) tidak akan sampai atau meruntuhkandinding di sekelilingapa yang Tuhantelah ditakdirkan sejak selama-lamanya.

Anda perlu memaksa diri andauntuk mempercayai bahawa penentuan dan Memutuskanadalah tidak relevan hal ehwal biasa yang tidak mempunyai sebarang kesan, danapa jua keputusanhanya kerana kehendak dan Tuhan  tujuan berlaku dengandan tidak keranamereka.
Penentuan anda dan menyelesaikan untuk sesuatu yangbercanggah dengan apa yang Tuhan kamu telah ditakdirkantidak mempunyai nilai atau kesan, jadi tidak fikir ia membawa sebarang manfaat.