Selasa, 16 September 2014

TAREKAT TERSOHOR DASUQIYAH



Tarekat Dusuqiyah-Burhamiyah-Burhaniyah

Tarekat ini adalah Tarekat yang dinasabkan kepada pendirinyanya, yaitu Al-Arif Billah Quthbul Aqhtab Saidina Wa Maulana As-Sayyid Ibrahim Al-Qurasyi Ad-Dusuki r.a.
مقام سيدى إبراهيم الدسوقى رضى الله عنه
Sidi Ibrahim Al-Qurasyi Ad-Dusuki dilahirkan pada malam 30 Sya’ban tahun 653 H disebuah desa yang bernama Dusuq di dalam Propinsi Kafr Syeikh, Mesir  sekarang.
Beliau wafat pada tahun 696 H pada umur 43 tahun. Diriwayatkan bahwa maqam beliau itulah tempat beliau dilahirkan.
Ayanda  Sidi Ibrahim Al-Qurasyi Ad-Dusuki ialah Al-Arif billah SidiAbdul Aziz yang digelar sebagai Abul Majdi pada zamannya. Sidi Abdul Aziz. Beliau juga merupakan diantara sahabat akrab seorang Wali Allah yang amat masyhur pada waktu itu yaitu Sidi Muhammad Bin Harun As-Sanhuri.
Karamah SidiIbrahim Al-Qurasyi Ad-Dusuki r.a.  banyak sekali. Untuk mengetahui dengan lebih mendalam, Silakan merujuk kitab-kitab berikut:
1.      At-Thabaqaat Al-Kubra oleh Sidi Abdul Wahhab As-Sya’rani
2.      Al-Jauharah Al-Mudhia’h oleh Sidi Ibrahim Al-Qurasyi Ad-Dusuki r.a.
3.      Syaikhul Islam ad Dasuqi, Qutbul Syari’ah wal Hakikah  oleh Rajab at Tayyib al Ja’fari
4.      Al-Arifbillah Sidi Ibrahim Al-Qurasyi Ad-Dusuki r.aoleh Saad Al-qadhi
Dan  banyak lagi kitab-kitab yang membicarakan tentang Sidi Ibrahim Al-Qurasyi Ad-Dusuki r.a.  dan Tarekat-Nya.

Nasab SidiIbrahim Dusuqi
Beliau ialah Sultonul Aulia (Sultan segala aulia’) dan Quthbul Aqhtab (Ketua segala Qutb) :
Sayyidina Wa Maulana As-Sayyid Ibrahim Bin Sidi Abdul Aziz Abul Majdi Bin As-Sayyid Ali Quraisy Bin As-Sayyid Muhammad Abu Ar-Ridha Bin As-Sayyid Muhammad Abun-Naja As-Sayyid Ali Zainula’bidin Bin As-Sayyid Abdul Khaliq Bin As-Sayyid Muhammad Abu At-Thayyib Bin As-Sayyid Abdullah (Al-Katim / Al-Khazim / Al-Mulatsam) Bin As-Sayyid Abdul Khaliq Bin As-Sayyid Musa Abulqasim Bin As-Sayyid Ja’far Az-Zaki Bin Al-Imam Ali Al-Hadi Bin Al-Imam Muhammad Al-Jawad Bin Al-Imam Ali Ar-Ridha Bin Al-Imam Musa Al-Kazhim Bin Al-Imam Ja’far As-Shadiq Bin Al-Imam Muhammad Al-Baqir Bin Al-Imam Ali Zainul A’bidin Bin
[Saidina Wa Maulana Al-Imam Hussain Bin Saidina Wa Maulana Al-Imam Ali]
[Saidina Wa Maulana Al-Imam Hussain Bin Saidatina Fatimah Az-Zahra’ Binti Rasulullah S.A.W]
Daripada pihak Ibunda Beliau adalah seorang Wali yang shalihah yang ‘abidah yaitu  Al-Arifbillah Saidatina Fathimah As-Syadzili yyah Bin Al-wali Al-Kabir Al-Arifbillah Syeikh Abdul Fath Al-Wasithi Bin Abil Ghanaim.
Syeikh Abul Fath merupakan salah seorang Khalifah agung bagi Al-Qutb As-Sayyid Ahmad Ar-Rifai’ r.a (Pendiri Tarekat Rifaiyyah).
Ada Riwayat mengatakan bahwa Ibu Sidi Ibrahim Al-Qurasyi Ad-Dusuki r.a.; SayidatinaFathimah tersebut merupakan saudara kandung Al-QutbSidi Abul Hasan As-Syadzili Ra. Jika benar riwayat ini, maka SidiIbrahim merupakan Keponakan Al-Qutb Sidi Abul Hasan As-Syadzili tersebut.
Walau bagaimanapun pendapat inilah yang kuat karena terdapat bukti-bukti yang kuat didalam kitab-kitab manaqib yang mu’tabar.
Dari segi pengambilan ijazah suluk, Sidi Ibrahim pernah menyebutkan didalam kitab beliau Al-Haqaiq (Hakikat-Hakikat) :
“Aku telah mengambil tarekat daripada Rasulullah S.A.W sendiri dan perjanjian baiah ku ambil daripada Al-Qutb Sidi Abil Hasan As-Syadzili  r.a”
Alun-Alun Masjid Sidi Syekh Ibrahim ad-Dasuqi di Dasuq Propinsi Kafr Syekh Mesir

Dusuqiyah-Dasuqiyah-Burhamiyah-Burhaniyah
Perkataan “Burhamiyah/البُرهامية” diambil dari nama pendiri tarekat ini, yaitu Sidi Ibrahim Ra, “Burhaniyah/ البُرهانية”  diambil dari gelar SidiIbrahim Al-Qurasyi Ad-Dusuki r.a., yaitu  Burhanudin sedanhkan kata “Dusuqiyah/الدسوقية” atau “Dasuqiyah” yang dinasabkan pada nama tempat kelahiran Beliau “Dusuq/ دسوق
Dan Berdasarkan UU Nomor 118/76 yang mengatur tentang Majelis Tertinggi Tarekat Sufi Mesir “المجلس الأعلى للطرق الصوفية” menyatakan bahwa Thuruq al-Burhamiyah al-Dasuqiyah merupakan tarekat-tarekat yang legal (mu’tabarah)di Republik Arab Mesir.
Untuk Indonesia, NU sebagai ormas terbesar Indonesia telah mengakui Tarekat Dusuqiyah (nama lain dari Tarekat Burhamiah) sebagai Tarekat Mu’tabarah yang bernaung dalam organisasi otonomnya yaitu JATMAN (Jam’iyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabarah an-Nahdliyah) yang sekarang Habib Muhammad Luthfi bin Yahya merupakan Rois ‘Ammnya.

Cabang-cabang Tarekat Sidi Ibrahim Al-Qurasyi Ad-Dusuki r.a  
Pada masa sekarang ini terdapat beberapa cabang Tarekat Sidi Ibrahim Al-Qurasyi Ad-Dusuki r.a diantaranya yang di Mesir yang bernaung dibawah Majelis Tertinggi Tarekat Sufi:
1.      Tarekat Dasuqiyah Muhammadiyah
3.      Tarekat Mujahidiyah Burhamiyah
5.      Tarekat Syarnubiyah Burhamiyah
Untuk Indonesia dan Malaysia, Tarekat Dusuqiyah Muhammadiyah merupakan cabang utama dari Tarekat Sidi Ibrahim Al-Qurasyi Ad-Dusuki r.a telah menyebar luas melalui alumni-alumni al-Azhar yang pulang ke daerah masing-masing.
*M. Lailatul Qodri, Ringkasan dari pelbagai sumber.

 

NASIHAT-NASIHAT TERKENAL SAYYID IBRAHIM AD DASUQIY


Thoriqoh Dasuqiyah yang juga terkenal dengan Thoriqoh Barhimiyah, mu’assisnya adalah Wali Agung Sayyid Ibrahim Ad-Dasuqiy radliallahu anhu (623-676 H).

Diantara nasehat-nasehatnya yang terkenal antara lain:

“Diantara yang wajib bagi murid adalah penela’ahan terhadap sesuatu yang didalamnya terdapat manaqib para shalihin dan peninggalan-peninggalan mereka berupa ilmu dan amal.”

“Barang siapa yang tidak bersifat iffah (menjaga kehormatan diri), bersih dan mulia, maka dia bukanlah anakku walau dari tulang rusukku.”

Barang siapa yang menetapi thoriqoh, agama, zuhud, wira’i dan sedikit tama’, maka dialah anakku sekalipun dari negeri yang jauh.”

“Demi Allah Swt, tidaklah seorang murid itu benar-benar mahabbahnya kepada thoriqoh kecuali akan tumbuh hikmah di dalam hatinya.”

Itulah antara lain wasiat Beliau kepada para muridnya, yang merupakan fondasi thoriqohnya, disamping sejumlah dzikir, wirid, dan do’a untuk taqarub kepada ‘Allamul-Ghuyub (Allah).
Thoriqoh Dasuqiyah ini tumbuh dan berkembang di Mesir dan menyebar luas di Sudan.

 


Beberapa kitabnya orang-orang salih yang berbicara tentang karamah dan riwayat hidupnya beliau, di antaranya adalah:

1) Farhatul Ahbab Fi Akhbar al-Arba’ah al-Ahbab, oleh al-Khalidi Asshayyadi.
2) Syaikhul Islam Addasuqi Quthbussyari’ah wal-Haqiqah, oleh Rajab Atthayyib al-Ja’fari.
3) Alamul Aqthab al-Haqiqi Sayyidi Ibrahim Ad-Dusuqi, oleh Abdurrazzaq al-King.
4) Lisanutta’rif bihalil-Wali As-Syarif Sayidi Ibrahim Ad-Dusuqi ra, oleh Syekh Ahmad bin Jalaluddin al-Karki ra.
5) Al-Ayatuzzahirah fi Manaqib al-Awliya’ wal-Aqthab al-Arba’ah, oleh Syekh Mahmud al-Garbawi.
6) Abul-Ainain Ad-Dusuqi, oleh Abdul-Al Kuhail.
7) Qiladatul Jawahir fi Zikril Gautsi wa Atba’ihil Akabir, oleh Syekh Abul Huda al-Khalidi As-Shayyadi.
8) Jami’ karamat al-Awliya’, oleh Syekh Yusuf An-nabhani.
9) Al-Arif Billahi Sayyidi Ibrahim Ad-Dusuqi, oleh Sa’ad al-Qadhi.
10) Biharul-Wilayah al-Muhammadiyyah Fi Manaqib A’lam Asshufiyyah, oleh Dr. Jaudah M. Abul Yazid.
11) Nailul Khairat al-Malmusah Biziyarati Ahlilbaiti Wasshalihin bi Mishr al-Mahrusah, oleh DR Sa’id abul As’ad.
12) Atthabaqat al-Kubra, oleh Syekh Abdul-Wahhab As-Sya’rani.
13) dan lain-lain

Syekh Ibrahim Addasuqi RA bermazhab Syafi’I dan terkenal dengan beberapa julukan seperti Abul Ainain, abul Aunain dan Burhanul Millati Waddin. Beliau wafat pada tahun 606H/1296M yang ketika itu beliau berumur 63 tahun dan dimakamkan di kota Dusuq-Mesir.

Beliau pernah berkata:
ولا تنتهي الدنيا ولا أيامها # حتى تعم المشرقين طريقتي

Yang artinya : “Dunia ini tidak akan berahir, sebelum tarekat-ku tersebar di seluruh penjuru dunia”

Di antara nasehat-nasehatnya yang terkenal antara lain;


"Di antara yang wajib bagi murid adalah penela'ahannya terhadap sesuatu yang di dalamnya terdapat manaqib para shalihin dan peninggalan­-peninggalan mereka berupa ilmu dan amal."

"Barang siapa yang tidak bersifat iffah (menjaga kehormatan diri), bersih dan mulia, maka dia bukanlah anakku walau dia dari tulang rusukku."

"Barang siapa yang menetapi thariqah, agama, zuhud, wira'i dan sedikit tama', maka dialah anakku sekalipun dari negeri yang jauh."

"Demi Allah, tidaklah seorang murid itu benar-benar mahabbahnya kepada thariqah kecuali akan tumbuh hikmah di dalam hatinya."

Itulah antara lain wasiat-wasiat beliau kepada para muridnya, yang merupakan fondasi thariqahnya, disamping sejumlah dzikir, wirid dan do'a untuk taqarrub kepada Allamul-Ghuyub (Allah).

Thariqah Dasuqiyah ini tumbuh dan berkembang di Mesir dan menyebar luas di Sudan.

TOKOH SUFI KLASIK ( 6 ) : HABIB AL AJAMI WALI LUGU YANG PENUH HIKMAH



 Awalnya, Habib adalah seorang laki-laki yang kaya raya dan juga seorang lintah darat. Ia tinggal di Bashrah. Setiap hari ia berkeliling kota menagih orang-orang yang berutang padanya. Bila tak ada uang, ia akan meminta pembayaran dengan kulit domba untuk bahan sepatunya. Begitulah mata pencariannya. Suatu hari, ia pergi untuk menemui seseorang yang berutang padanya. Namun orang itu tidak ada di rumah. Karena gagal menemui orang itu, ia pun meminta pembayaran dengan kulit domba.“Suamiku tak ada di rumah,” tutur istri si peng­utang itu padanya. “Aku sendiri tak punya apa-apa. Kami telah menyembelih seekor domba, tapi, kini tinggal lehernya yang tersisa. Bila kau mau, aku akan memberikan padamu.”

“Boleh juga,” ujar Habib, ia berpikir bahwa setidaknya bisa ia membawa pulang leher domba itu. “Panaskan panci!”

“Aku tidak punya roti ataupun bahan bakar,” kata wanita itu.“Baiklah,” kata Habib. “Aku akan pergi meng­ambil roti dan bahan bakar, dan semuanya akan kuperhitungkan dengan kulit domba.”Habib pun pergi dan mengambil roti serta bahan bakar. Wanita-itu menyiapkan panci. Masakan itu pun matang, dan si wanita hendak menuangkannya ke dalam sebuah mangkuk. Saat itu, seorang pengemis mengetuk pintu.“Jika kami memberimu apa yang kami miliki,” teriak Habib, “kau tak akan menjadi kaya, sementara kami sendiri akan menjadi miskin!”Pengemis itu dengan putus asa, meminta wanita itu untuk menuangkan sesuatu ke mangkuknya. Wanita itu mengangkat tutup panci dan melihat bahwa seluruh isinya telah berubah menjadi darah. Wanita itu menjadi pucat, ia bergegas menemui Habib dan menarik tangannya, membawanya mendekati panci itu. “Lihatlah apa yang telah terjadi akibat praktik riba terkutukkmu itu, dan akibat caci-makimu kepada. pengemis itu!” pekik wanita itu. “Apa yang akan menimpa kita sekarang di dunia ini, belum lagi di akhirat kelak?”Melihat hal ini, Habib merasa seakan-akan kobaran api di dalam tubuhnya yang tak akan pernah surut. “Wahai wanita,” ujarnya; “aku menyesali segala, yang pernah kulakukan.”

Esok harinya Habib kembali pergi menemui orang-orang yang berutang padanya untuk menagih. Hari itu hari Jumat, anak-anak terlihat bermain di jalan. Ketika mereka melihat Habib, mereka berteriak, “Jangan dekat-dekat, agar debunya tidak menempel pada tubuh kita dan membuat kita terkutuk seperti dirinya.”Kata-kata itu sangat menyakiti Habib, Ia kemudian menuju gedung pertemuan, di sana Hasan Bashri sedang berceramah. Kebetulan, ada kata-kata Hasan Bashri yang benar-benar- menghenyakkan hati Habib, hingga membuatnya jatuh pingsan. Ia pun bertobat. menyadari apa yang telah terjadi, Hasan Bashri memegang tangan Habib dan menenang­kanya. Sepulangnya dari gedung pertemuan., Habib terlihat oleh seseorang yang berutang padanya, orang itu pun hendak melarikan diri. “Jangan lari!,” kata Habib padanya, “Mulai sekarang, akulah yang harus melarikan diri darimu.” Habib pun berlari. Anak-anak masih saja bermain di jalan. Ketika mereka melihat Habib, mereka kembali berteriak, “Lihat, itu Habib sang petobat. Jangan dekat-dekat, agar debu kita tidak menempel di tubuhnya, karena kita adalah para pendosa.”“Ya Allah, ya Tuhan,” tangis Habib. “Karena satu hari ini, di mana aku bertobat, Engkau telah menabuh genderang di hati manusia untukku, dan membuat namaku masyhur karena kebajikan.” Lalu ia pun mengeluarkan pernyataan, “Siapa saja yang menginginkan apa pun dari Habib, datanglah ke­padaku dan ambil apa pun yang kalian mau!”, Orang-orang pun berkumpul di rumahnya, dan ia memberikan segala yang dimilikinya hingga ia tak punya uang sepeser pun. Kemudian, seorang pria datang meminta sesuatu, Karena tak memiliki apa-apa lagi, Habib pun memberi pria itu kain istrinya. Kepada seseorang yang datang kemudian, Habib memberikan bajunya, sendiri, ia pun jadi telanjang dada.Habib lalu menyepi di tepi Sungai Eufrat dan di sana ia menyerahkan diri sepenuhnya untuk ibadah.

Setiap hari, siang dan malam, ia. belajar di bawah bimbingan Hasan, tapi ia tidak bisa mempelajari Al-Qur’an, karenanya, ia juluki Barbar. Waktu pun berlalu, dan Habib benar-benar menjadi orang yang sangat, miskin. Istrinya me­mintanya untuk memberi nafkah sehari-hari, Habib pun keluar rumah menuju tepi Sungai Eufrat untuk beribadah. Ketika malam tiba, ia kembali ke rumah. “Suamiku, di mana engkau bekerja, kok tidak membawa pulang apa-apa?,” tanya istrinya. “Aku bekerja pada. seseorang yang sangat dermawan,” jawab Habib, “Saking dermawannya ia, aku sampai malu untuk meminta kepadanya. Bila telah tiba waktu yang tepat, ia akan memberi. Setiap sepuluh hari aku membayar upah,” kata Bosku.Begitulah, setiap hari Habib pergi ke tepi sungai dan beribadah di sana, hingga sepuluh hari. Pada hari kesepuluh, di waktu dzuhur, di benaknya berkata; “Apa yang aku bawa pulang malam ini, dan apa yang aku katakan pada isteriku?”Habib merenungkan hal ini dalam-dalam. Seketika, Allah Yang Mahakuasa mengutus bebe­rapa orang kuli ke rumah Habib dengan membawa tepung, daging domba, minyak, madu, rempah rempah, dan bumbu dapur. Kuli-kuli itu menaruh barang berat tersebut di dapur rumah Habib. Seorang anak muda yang tampan menyertai mereka dengan membawa uang sebanyak tiga ratus dirham. Anak muda itu mengetuk pintu rumah Habib.“Apa keperluan Anda?” tanya istri Habib sambil membuka pintu. “Tuanku telah mengirim semua ini” jawab anak muda itu. “Bilang pada Habib, ‘Bila kau tingkatkan hasilmu, niscaya kami akan tingkatkan upahmu.” Setelah mengatakan hal itu, ia pun pergi.Di kegelapan malam, Habib melangkah pulang, malu dan sedih. Ketika ia semakin mendekati rumah­nya, ia mencium aroma roti dan masakan. Istrinya berlari menyambutnya, membersihkan wajahnya, dan berlaku sangat lembut padanya: “Suamiku,” kata istrinya, “tuanmu itu sangat haik, dermawan, serta; penuh cinta dan kebaikan. lihatlah apa yang telah ia kirimkan melalui seorang anak muda yang tam­pan! Dan anak muda itu berkata, ‘Jika Habib pulang, katakan padanya, ‘Bila kau tingkatkan hasilmu, niscaya kami akan tingkatkan upahmu.”Habib merasa takjub. “Menakjubkan!” katanya. “Aku baru bekerja, selama sepuluh hari, dan ia telah memberikan aku-segala kebaikan ini. Jika aku bekerja lebih keras, siapa yang tahu apa yang akan diperbuat­nya?” Habib pun memalingkan wajahnya sepenuhnya dari duniawi dan mengabdikan diri untuk ber­ibadah kepada-Nya.

TOKOH SUFI KLASIK ( 5 ) : KISAH PERJALANAN KEROHANAIAN HABIB AL AJAMI



Habib Al Ajami,semula adalah seorang yang kaya raya yang pekerjaanya adalah membungakan uang atau rentenir yang meminjamkan kepada seseorang dengan sistim bunga.

Suatu saat  Habib pergi kepada seseorang yang berhutang kepadanya. Seperti biasa dia dating untuk menagih hutang sekaligus bunganya. Namun kali ini seseorang yang dicari tidak ada dirumah. Dia hanya menemukan istrinya saja, Kepada wanita itu dia menagih hutang dan bunganya.

 Siwanita itu pun berkata; Suamiku sedang tak ada dirumah,,”dan saya tak punya uang untuk membayar hutang kami kepada tuan, tetapi kami baru menyembelih kambing dan sekarang yang tersisa hanya lehernya saja, Jika tuan menginginkanya saya akan memberikanya kepada tuan.

 Habibpun menjawab:” Boleh”,Tapi ini bukan berarti pembayaran atas hutang suamimu,,”!

Segera wanita tersebut masuk kedalam rumah dan memasak leher kambingitu.setelah matang wanita itupun menuangkan kesebuah mangkok. Namun sebelum dia mengucurkan kuahnya kedalam mangkok tiba-tiba dating seorang pengemis meminta minta sedekah, Wanita itupun bingung antara memberikan leher kepada pengemis atau Habib.”

 Kemudian wanita itu  memberanikan bicara kepada Habib:” Jika yang kami miliki ini saya berikankepadamu,,,”Tuan tidak akan menjadi kaya karenanya tetapi kami sendiri yang akan menjadi miskin sebab tidak ada apa-apa lagi yangdapat kami makan hari ini.”

Habibpun marah dan mendamprat pengemis itu. Namun pengemis tersebut masih tetap mengharap pemberian walau hanya sekedar untuk mengganjal perut.

Melihat hal tersebut dan didorong oleh sifat kasihan maka wanita tersebut akhirnya memberikanya masakan itu kepada pengemis. Namum alangkah terkejutnya habib manakala dibuka penutup mangkok itu ternyata isinya berubah menjadi darah hitamyang membusuk.

 Wanita itupun berkata :” Tuan,,” Saksikanlah olehmu, Masakan ini berubah menjadi darah hitam yang membusuk dikarenakan Ribamu yang terkutuk dan sikapmu terhadap seseorang yang  mengharapakan belah kasihmu”,

Tak lama wanita itupun menagis dan berkata:”Aku tak tahu bagaimana nasib kita kelak diakhirat dengan perbuatan kita ini”

Habib terdiam  tiba-tiba tubuhnya menerima sebuah kesadaran bahwa apa yang telah ia perbuat terhadap suami istri dan kepada seorang pengemis hari itu adalah suatu kesalahan besar.

Setelah peristiwa itu besoknya dia pergi lagi kesalah seorang  dengan maksud yang sama menagih hutang, kebetulan  hari itu hari jum’at, banyak anak-anak yang bermain main dijalan pada saat itu.

 Mengetahui kedatangan Habib mereka berkata:”Lihatlah Habib silintah darat itu menuju kemari,,”ayo lari….”!!klo ga nanti debu-debunya akan menempel kepada kita dan kita akan menjadi seperti dia”!

Pada awalnya Habib begitu marah dengan tingkah anak anak itu tapi lambat laun dari itulah Habib semakin menyadari kesalahnya. Habib menjadi orang yang Khusu dalam beribadah dalam tobatnya dia berkata:”Ya ALLAH…”baru saja hambamu membuat permainan dengan-MU,dan Engkau telah membuat gendering gendering didalam hati manusia untuk diriku. Aku benar-benar bertobat kepada-MU,,Ya,,ALLAH..”

Pada suatu hari Habib membuat pengumuman yang sangat aneh,pengumuman itu berisi”Barang siapa  yang menginginkan harta benda milik Habib Al Ajami dating dan ambilah”!!!

Dari pengumuman itu maka berbondong-bondonglah semua warga untuk mengambil harta Habib yang mengakibatkan Habib Al Ajami jatuh miskin,hingga ketika seseorang yang dating paling akhir tak kebagian harta habib dan meminta baju yang dikenakanya maka habib pun memberikanya.

 Akhirnya Habib pergi uzlah dengan berbekal pakaian yang dikenakan saja,menyepi menuju pinggiran sungai Euphrat.ditempat itulah dia hidup sepenuhnya untuk beribadah kepada ALLAH,ditempat itu dia tidak sendiria dia ditemani oleh Hasan Al Basri yang menjadi guru dan pembimbing perjalanan sepiritualnya.

Beberapa waktu kemudian habib menjenguk istrinya yang ditinggal ketika berniat untuk menyepi. Kedatangan Habib tentusaja membuat bahagian sang istri tapi juga kecewa karena tak pernah bertemu sekian lama juga tak ada kabar dari Habib,sehingga munculah sebuah percakapan sang istri yang bertanya kepada Habib.

 “Kemana saja engkau bekerja selama ini?”,mengapa sampai sekarang engkau tidak memberiku apa-apa untuk menutupi kebutuhan hidup kita?”

 Habibpun menjawab:”Aku bekerja kepada seseorang yang sangat pemurah”Sedemikian murahnya Dia sampai-sampai aku malu untuk meminta sesuatu kepada-NYA. Sudahlah ,,,”pada saatnya nanti Dia akan memberikan sesuatu kepada kita,sebab Dia pernah berjanji sepuluh hari sekali AKU akan membayar upahmu”.

 Tanpa sepengetahuan sang istri Habib pun pergi menuju masjid untuk bermunajat kepada ALLAH. Dan pada shatal dhuhur dihari yang kesepuluh sebuah pikiran mengusik batinya,”Apakah yang akan aku bawa pulang hari ini yang bias aku berikan kepada istriku,,?”

 Lama Habib memikirkan hal itu sampai pada titik puncak dia memasrahkan semua kepada ALLAH yang maha pengasih lagi maha penyayang. Dan pada saat bersamaan ALLAH menyuruh malaikat-NYA dalam wujud manusia untuk membawakan gandum ,ada lagi yang membawa domba yang sudah dikuliti sementara yanglainya membawa minyak,madu,rempah-rmpah,dan bumbu kerumah Habib tanpa sepengetahuan Habib.diantara malaikat ada yang berwujud seorang pemuda yang gagah yang membawa sebuah kantong yang berisi uang 300 dirham perak.

 Sang pemudapun mengetuk rumah Habib, dari dalam rumah sang istripun membukakan pintu, betapa kagetanya istri Habib melihat rombongan yang lumayan banyak bertandang kerumahnya. Istri Habibpun bertanya:”Apakah maksud tuan-tuan dating kerumah kami ini?”

 Sang pemudapun menjawab:” Majikan kami menyuruh kami untuk mengatarkan barang-barang ini.,”Dan tolong sampaikan kepada Tuan Habib bahwa jika dia melipat gandakan jerih payahnya maka Tuan Kami juga akan melipat gandakan upahnya,,”

 Sementara itu Habi masih dalam keadaan bingung dimasjid,akhirnya dia pulang dengan keadaan bersedih karena tidak bisa membawakan apapun untuk istrinya untuk sekedar makan beberapa hari saja. Sesampai dirumah Habib merasa aneh dengan rumah yang bau dengan masakan mengundang selera, Meleihat suaminya pulang istri Habibpun langsung berlari menyambut kedatangan suaminya dengan senyum bahagia,”

 Sang istripun berkata:”Wahai suamiku,,”memang benar apa yang engkau katakana tempo hari,bahwa majikanmu memang seorang yang sangat pemurah dan pengasih. Lihatlah apa saja yang Dia kirimkan kepada kita tadi pagi lewat seorang pemuda yang gagah.”

 Habib masih tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh istrinya. Sedangkan tadi pagi sampe siang dia berada dimasjid  dalam keadaan bingung. Istri habibpun melanjutkan percakapanya:”Oh..iya,,,”Pemuda tadi juga berpesan bahwa jika engkau melipat gandakan jerih payahmu niscaya Tuanmu akan melipat gandakan upahmu juga..”

Betapa terkejutnya Habib dengan cerita istri yang baru dia sampaikan, Dia baru sadar bahwa ternyata ALLAH telah membalas apa yang selama ini dia kerjakan,Dalam rasa syukurnya Habib berkata;” Ya,,ALLAH,,” begitu banyak nikmat yang Engkau limpahkan kepada kami didunia ini.Berikanlah limpahan nikmat ini kepada hamba-MU ini kelak diakherat nanti”

 Semoga dari cerita perjalanan sepiritual Habib Al Ajami bisa sedikit member kita pelajaran bahwasanya perlu sekali ditanamkan rasa sabar dan  berserah diri kepada ALLAH niscaya akan memberi  petunjuk dengan karunia nikmat lebih sesuai dengan kebutuhan hati kita,karena ALLAh telah berjanji  dalam firman-NYA:

 “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya akan Aku tambahkan (nikmat-Ku) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7).

TOKOH SUFI KLASIK ( 4 ) : KISAH KEJUJURAN HABIB AL ‘AJAMI



Hasan al-Basri (semoga Allah memberkatinya) adalah seorang imam yang terkenal.

Dan di masanya, hidup Habib al-’Ajami (semoga Allah mensucikan jiwanya). Beliau bukan seorang Arab, tapi dari Persia atau Bukhara, dan (beliau) buta huruf.

Suatu ketika Habib al-’Ajami sedang duduk di depan khaniqahnya (pondokan untuk berdzikir), tiba-tiba Hasan al-Basri datang dengan tergopoh-gopoh. “Oh Habib, sembunyikan aku karena Hajjaj, wakil gubernur, mengutus tentaranya untuk menangkapku. Sembunyikan aku!” kata Hasan al Basri. Dan Habib membalas “Masuklah ke dalam dan bersembunyilah.” Hasan masuk ke dalam dan menemukan sebuah tempat untuk bersembunyi. Beberapa saat kemudian, beberapa tentara menghampiri Habib, “Apakah anda melihat Hasan al-Basri?”

“Ya, Aku melihatnya di dalam. Dia ada di dalam.” jawab habib.

Mereka masuk ke dalam dan melihat ke sekeliling, melihat ke segala arah, bahkan menyentuh kepala Hasan al-Basri, dan beliau melihat mereka dengan ketakutan. Kemudian pasukan itu keluar, dan berkata kepada Habib,”Apa sekarang anda tidak malu (karena) anda telah berdusta. Di mana dia? Hajjaj akan berurusan dengan orang yang bekerja sama dengan Hasan al-Basri, dan itu cocok dengan anda. Anda berkata bahwa dia berada di dalam, apakah anda tidak malu telah berdusta!”

“Di dalam, Aku tidak berdusta. Dia di dalam.”  jawab Habib.

Sekali lagi, mereka masuk. Lalu, dengan sangat marah, merekapun pergi karna tak menemukan. Beberapa saat Kemudian Hasan al-Basri keluar. “Oh, Syaikh, apa ini? Aku datang kapadamu, memintamu untuk menjagaku dan engkau malah mengatakan kepada tentara bahwa aku berada di dalam.” “Ya Hasan, ya Imam, najawta min sidqi kalaamiy {engkau diselamatkan oleh kebenaranku!} Aku mengatakan kebenaran dan Allah melindungimu karena aku berkata dengan jujur. Aku berkata, “Wahai Tuhanku, ini adalah Hasan al-Basri, hamba-Mu, dia datang meminta pertolonganku, berkata, ‘Sembunyikan aku, jagalah aku!’ Aku tidak bisa melindunginya. Aku mempercayakan dia kepada-Mu, menyerahkan dia kepada-Mu sebagai amanat dariku. Engkau melindunginya.’ Aku hanya mengatakan hal itu dan membaca Ayat al-Kursi.”

Karena itulah para tentara tiada pun dapat melihatnya.