Selasa, 16 September 2014

TOKOH SUFI KLASIK ( 3 ) : KEAJABIAN-KEAJAIBAN HABIB AL AJAMI



Pada suatu seorang wanita tua datang kepada Habib, merebahkan dirinya di depan Habib dengan sangat memelas hati.

“Aku mempunyai seorang putera yang telah lama pergi meninggalkanku. Aku tidak sanggup lebih lama lagi terpisah darinya, berdoalah kepada Allah,” mohonnya kepada Habib, “Semoga berkat doamu, Allah mengembalikan puteraku itu kepadaku.”

Apakah engkau memiliki uang ?” Tanya Habib kepada wanita tua itu.

“Aku mempunyai dua dirham.” Jawabnya.

“Berikanlah uang itu kepada orang-orang miskin.”

Kemudian Habib membaca sebuah doa lalu ia berkata kepada wanita itu, “Pulanglah, puteramu telah kembali.”

Belum lagi wanita itu sampai ke rumah, dilihatnya sang putera telah ada dan sedang menantikannya.

“Wahai! Anakku telah kembali!” wanita itu berseru. Kemudian dibawanya puteranya itu menghadap Habib.

“Apakah yang telah engkau alami?” Tanya Habib kepada putera wanita itu.

“Aku sedang berada di Kirmani, guruku menyuruhku membeli daging. Ketika daging itu telah kubeli dan aku hendak pulang ke guruku, tiba-tiba bertiuplah angin kencang, tubuhku terbawa terbang dan terdengar olehku sebuah suara yang berkata, “Wahai angin, demi doa Habib dan dua dirham yang telah disedekahkan kepada orang-orang miskin, pulangkanlah ia kerumahnya sendiri.”

Pada tanggal 8 Zulhijjah, Habib kelihatan di kota Bashrah dan pada keesokkan harinya di Padang Arafah. Pada waktu yang lain, bencana kelaparan melanda kota Bashrah. Karena itu, dengan berutang Habib membeli banyak bahan-bahan pangan dan membagi-bagikannya kepada orang-orang miskin. Setiap hari Habib menggulung kantung uangnya dan menaruhnya di bawah lantai. Apabila para pedagang datang untuk menagih utang, barulah kantung itu dikeluarkannya. Sungguh ajaib, ternyata kantung itu sudah penuh dengan kepingan-kepingan dirham. Dari situ dilunasinya semua utangnya.

Rumah habib terletak di sebuah persimpangan jalan di kota bashrah. Ia mempunyai sebuah mantel bulu yang selalu dipakainya baik pada musim panas maupun pada musim dingin. Sekali peristiwa, ketika Habib hendak bersuci, mantel itu dilepaskannya dan dengan seenaknya dilemparkannya ke atas tanah.

Tidak berapa lama kemudian Hasan al Bashri lewat di tempat itu. Melihat mantel Habib yang terletak di atas jalan, ia bergumam, “Dasar Habib seorang barbar, tak peduli berapa harga mentel bulu ini! Mantel yang seperti ini tidak boleh dibiarkan saja di tempat ini, bias-bisa hilang nanti”.

Hasan berdiri di tempat itu untuk menjaga Mantel itu. Tidak lama kemudian habib pun kembali.

“Wahai, imam kaum Muslimin,” Habib menegur Hasan setelah member salam kepadanya, “mengapakah engkau berdiri di sini?”

“Tahukah engkau bahwa mantel seperti ini tidak boleh ditinggalkan di tempat begini? Bisa-bisa hilang. Katakana, kepada siapakah engkau menitipkan mantel ini?”

“Kutitipkan kepada Dia, yang selanjutnya menitipkannya kepadamu”. Jawab Habib.

Pada suatu hari Hasan berkunjung ke rumah habib. Kepadanya Habib menyuguhkan dua potong roti gandum dan sedikit garam. Hasan sudah bersiap-siap hendak menyantap hidangan itu, tetapi seorang pengemis datang dan Habib menyerahkan kedua potong roti beserta garam itu kepadanya.

Hasan terheran-heran lalu berkata, “Habib, engkau memang seorang manusia budiman. Tetapi alangkah baiknya seandainya engkau memiliki sedikit pengetahuan. Engkau mengambil roti yang telah engkau suguhkan ke ujung hidung tamu lalu memberikan semuanya kepada seorang pengemis. Seharusnya engkau memberikan sebagian kepada si pengemis dan sebagian lagi kepada tamumu”.

Habib tidak memberikan jawaban.

Tidak lama kemudian seorang budak datang sambil menjunjung sebuah nampan. Di atas nampan itu ada daging domba panggang, penganan yang manis-manis, dan uang lima ratus dirham perak. Si budak menyerahkan nampan itu ke hadapan Habib. Kemudian Habib membagi-bagikan uang itu kepada orang-orang miskin dan menempatkan nampan itu di samping Hasan.

Ketika Hasan mengenyam daging panggang itu Habib berkata kepadanya, “Guru, engkau adalah seorang manusia budiman, tetapi alangkah baiknya seandainya engkau memiliki sedikit keyakinan. Pengetahuan harus disertai dengan keyakinan.

Pada suatu hari ketika perwira-perwira Hajjaj mencari-cari Hasan, ia sedang bersembunyi di dalam pertapaan Habib.

“Apakah engkau telah melihat Hasan pada hari ini?” Tanya mereka kepada Habib.

“Ya, aku telah melihatnya”, jawab Habib.
“Di manakah Hasan pada saat ini?”
“Di dalam pertapaan ini”.

Para perwira itu memasuki pertapaan Habib dan mengadakan penggeledahan, namun mereka tidak berhasil menemukan Hasan.

“Tujuh kali tubuhku tersentuh oleh mereka”, Hasan mengisahkan, “namun mereka tidak melihat diriku”.

Ketika hendak meninggalkan pertapaan itu Hasan mencela habib, “Habib, engkau adalah seorang murid yang tidak berbakti kepada guru. Engkau telah menunjukkan tempat persembunyianku”.

“guru, karena aku berterus terang itulah engkau dapat selamat. Jika tadi aku berdusta, niscaya kita berdua sama-sama tertangkap”.

“Ayat-ayat apakah yang telah engkau bacakan sehingga mereka tidak melihat diriku?” Tanya hasan.

“Aku membaca Ayat Kursi sepuluh kali, Rasul Beriman sepuluh kali, dan Katakanlah, Allah itu esa sepuluh kali. Setelah itu aku berkata, “Ya Allah, telah kutitipkan Hasan Kepada-Mu dan oleh karena itu jagalah dia”.

Suatu ketika Hasan ingin pergi ke suatu tempat. Ia lalu menyusuri tebing-tebing di pinggir suangai Tigris sambil merenung-renung. Tiba-tiba Habib muncul di tempat itu.

“Imam, mengapakah engkau berada di sini?” Habib bertanya.

“Aku ingin pergi ke suatu tempat namun perahu belum juga tiba”, jawab Hasan.

“guru, apakah yang telah terjadi terhadap dirimu? Aku telah mempelajari segala hal yang kuketahui dari dirimu. Buanglah rasa iri kepada orang-orang lain dari dalam dirimu. Tutuplah matamu dari kesenangan-kesenangan dunia. Sadarilah bahwa penderitaan adalah sebuah karunia yang sangat berharga dan sadarilah bahwa segala urusan berpulang kepada Allah semata-mata. Setelah itu turunlah dan berjalanlah di atas air”.

Selesai berkata demikian Habib menginjakkan kaki ke permukaan air dan meninggalkan tempat itu. Melihat kejadian ini, Hasan merasa pusing dan jatuh pingsan. Ketika ia siuman orang-orang bertanya kepadanya, “Wahai imam kaum Muslimin, apakah yang telah terjadi pada dirimu?”

“Baru saja muridku Habib mencela diriku; setelah iti ia berjalan di atas air dan meninggalkan diriku sedang aku tidak dapat berbuat apa-apa. Jika di akhirat nanti sebuah suara menyerukan, “Laluilah jalan yang berada di atas api yang menyala-nyala”, sedang hatiku masih lemah seperti sekarang ini, apakah dayaku?”

Di kemudian hari Hasan bertanya kepada Habib, “Habib, bagaimanakah engkau mendapatkan kesaktian-kesaktianmu itu?”

Habib menjawab, “Dengan memutihkan hatiku sementara engkau menghitamkan kertas”.

Hasan berkata, “Pengetahuanku tidak memberi manfaat kepada diriku sendiri, tetapi kepada orang lain”.

TOKOH SUFI KLASIK ( 2 ) : KISAH KEKERAMATAN HABIB AL AJAMI



Dikisahkan bahwa Habib memiliki sehelai mantel bulu yang selalu dipakainya baik di musim dingin maupun di musim panas, suatu saat ketika Habib hendak bersuci mantel itu dilepaskannya dengan s enaknya dan di lemparka ke hamparan tanah.Tidak beberapa lama kemudian Hasan Basri lewat di tempat itu dan melihat mantel milik Habib, dia pun bergumam, “Dasar Habib si orang barbar, tidak pedu;i harga mantel ini kalau di biarkan saja bisa hilang nanti.”Hasan kemugian berdiri di tempat itu untuk menjaga mantel tersebut, tidak lama berselang Habib pun muncul kembali.

“Wahai imam kaum muslimin, mengapa engkau berdiri di sini?” tegur Habib setelah memberi salam. “Mantel seperti ini tidak boleh di tinggalkan di tempat sembarangan, sebab nanti bisa hilang di ambil orang,katakan kepada siapa engkau menitipkan mantel ini tadi?” tanya Hasan.

“Kutitipkan pada Allah SWT, yang selanjutnya dia menitipkannya pada mu, jawab Habib.

Dikisahkan pula , pada suatu hari Hasan berkunjung ke rumah Habib, kepadanya Habib menyuguhkan dua potong roti gandum dan sdkit garam, ketika sang tamu sudah bersiap hendak menyantap hidangan itu, seorang pengemis datang dan Habib menyerahkan roti itu pada pengemis tersebut, Hasan terheran-heran, lalu berkata “Habib engkau memang manusia budiman akan tetapi alangkah baiknya jika engkau memiliki sedikit pengetahuan. Engkau mengambil roti yang telah disuguhkan ke ujung hidung tamu, lalu memberikan semuanya kepada seorang pengemis, seharusnya engkau memberikan sebagian ke pengemis dan sebagian kepada tamu mu.”

Mendengar teguran itu Habib tidak memberikan jawaban, tak lama kemudian seorang budak datang membawa sebuah baki, diatas bakitersebut terdapat daging domba pangang, makana yang manis – manis dan uang lima ratus dirham, si budak menyerahkan baki tesebut kepada Habib kemudian Habib membagi – bagikan uang kepada orang – orang miskin sedanmgkan daging domba dan makana lainnya di suguhkan kepada Hasan, ketika Hasan sedang menikmati daging itu Habib berkata kepadanya, “guru engkau memang seorang manusia yang budiman tetapi alangkah baiknya jika engkau memiliki sedikit keyakinan, pengetahuan harus disertai denghan keyakinan.”

Karomah Habib yang lain sebagai berikut, suatu hari seorang wanita tua datang ke rumah habib lalu merebahkan kepalanya dengan sangta memelas, “Aku mempunyai seorang putra yang telah lama pergi meninggalkan ku, aku rtak sanggup lebih lama lagi berpisah dengannya, berdoalah ke pada Allah semoga berkat doamu Allah SWT mengembalikan putra ku kepadaku.” pinta wanita tua itu sambil menangis.

“Apakah engkau memiliki uang?” tanya Habib. “Aku hanya memiliki dua dirham.” Jawabnya. “Berikannlah uangmu kepada orang – orang miskin, nasihat Habib. Setelah wanita tua itu melakukan apa yang di perintahkan, Habib kemudian membaca doa, seusai berdoa dia berkata, “Pulanglah, puteramu sekarang telah pulang dan sedang manantimu.”

Benar apa yang dikatakan habib, ketika wanita tua itu pulang dia melihat sorang pria berdiri di pintu rumahnya, dan ternyata pria itu adalah putranya. wanita tua itu benar – benar gembira dan membawa putranya bertemu Habib, “apa sebenarnya yang telah engkau alami,” tanya Habib pada putra wanita tua itu.

“Aku sedang berada di Kirmani untuk membeli daging, gurukulah yang menyuruhku, ketika aku hendak pulang ke rumah guruku, tiba -tiba bertiuplah angin kencang sekali sehingga tubuhku terbawa terbang. Dalam keadaan panik, terdengar suara tanpa wujud yang mengatakan, “wahai angin demi doa Habib dan dua dirham yang telah di sedekahkan kepada orang miskin, pulangkanlah dia kerumah nya sendiri. Itulah yang tadi aku alami”. Jawab si pemuda.

TOKOH SUFI AWAL (12) :KISAH IBRAHIM DENGAN SEORANG TENTERA

TOKOH SUFI AWAL (12) : KISAH IBRAHIM DENGAN SEORANG TENTERA

   
Suatu malam Imam Ibrahim bin Adham sedang berada di luar rumah. Seorang askar yang menunggang kuda dan pasukannya berkhemah di sekitar tempat itu dan kebetulan mendapat cuti, datang mendekatinya, lalu bertanya: “Hai orang tua, di daerah ini, di manakah ada tempat bersenang-senang, tempat yang paling indah?”
Ibrahim bin Adham mendonggakan kepala dan bertanya balik “Tuan menanyakan pendapat saya?”
“Ya!”.Jawab askar itu.
“Tempat yang tuan maksudkan itu terletak di sana, di seberang rumah saya.” Jawab Ibrahim bin Adham sambil menunjukkan ke arah tanah perkuburan.
“Yang mana?” tanya askar itu kebingungan.
“Itu, di seberang sana!”. Ibrahim bin Adham sekali lagi menunjukkan ke arah yang sama.
“Yang mana?……kuburan itu?” tanya askar itu lagi.
“Ya, betul. Tempat yang paling indah untuk bersenang-senang menurut pendapat saya adalah kuburan”. Jawab Ibrahim bin Adham
“Kurang ajar”, kata askar itu marah. Tapi ia belum berani bertindak lebih jauh, takut kalau-kalau orang tua itu seorang yang berpangkat tinggi. Jadi ia bertanya: “Siapakah kamu hai orang tua?”.
“Saya hanyalah seorang hamba” Jawab Ibrahim bin Adham
“Keparat!” teriak askar itu sambil menendang Ibrahim bin Adham.
Kemudian Ibrahim bin Adham di seret ke perkhemahannya dan diadukan kepada atasannya dengan tuduhan telah mempermainkan dan menghina tentera.
Namun alangkah hairannya askar itu melihat atasannya sangat menghormati orang tua tersebut kerana ia memang mengenali Ibrahim bin Adham sebagai seorang alim yang amat berpengaruh.
Walau bagaimanapun, ketua tentera dengan nada penyesalan dan kekecewaan berkata: “Saya menyayangkan sikap tuan selaku orang alim, mengapa mempermainkan anak buah saya?”.
Ibrahim Adham bertanyakan tidak mengerti: “Mempermainkan anak buahmu?. Dalam hal apa?”
“Ia menanyakan tempat bersenang-senang yang paling indah. Kenapa tuan menunjukkan tanah perkuburan?”
“Hah!, ia menanyakan pendapat saya. Tentu sahaja tempat bersenang-senang buat orang tua seperti saya hanyalah di tanah perkuburan. Apakah seumur hidup saya ini masih dapat mencari kesenangan di tempat-tempat hiburan?.
Pengawal tentera itu terperangah. Terpaksalah ia mengakui, Ibrahim bin Adham telah memberikan jawapan yang tepat. Tapi ia masih kurang senang. Hingga ia bertanya lagi; “Andaikata tuan menerangkan dengan jujur siapa tuan sebenarnya, pasti anak buah saya takkan menendang serta mengheret tuan ke mari.”
“Maksudmu?”. Tanya Ibrahim bin Adham
“Mengapa tuan mengatakan bahawa tuan hanya seorang hamba?”
“Apakah salah saya? Dia bertanyakan saya siapa. Jadi siapakah saya ini kecuali seorang hamba Allah?. Kau, aku, dia dan kita semua, bukankah cuma hamba-hamba Allah belaka? Nama, pangkat dan kedudukan hanyalah buat sementara, yang tidak dapat menghilangkan kenyataan bahawa kita adalah hamba Allah”.
Makin terperosok pegawai itu ke dalam kebenaran yang pahit. Ia tak dapat mengelak bahawa semua dalih dan penjelasan Ibrahim bin Adham adalah kejujuran paling tuntas dari seorang alim yang tawakal.
Akhirnya dengan sedih ia berkata: “Kalau begitu, maafkanlah kekurang ajaran anak buah saya yang telah menendang dan menyeret tuan ke mari”.
Ibrahim bin Adham dengan wajah polos menjawab: “Tidak perlu meminta maaf dan tidak perlu memaafkan. Sepatutnya sayalah yang harus mengucapkan terima kasih kepadanya”.
“Ah, sekeras itukah hati tuan sehingga tidak mahu memberi maaf?”
“Bagaimanakah saya harus memberi maaf jika dia tidak perlu minta maaf?. Mengapa dia mesti minta maaf padahal dia telah membantu saya mengurangi dosa-dosa saya, melipatgandakan simpanan pahala saya dan menyebabkan doa saya pasti dikabulkan Allah S.W.T?”
“Maksud tuan?” Tanya pegawai tentera itu kebingungan.
Saya tidak bersalah tetapi dia telah menganiaya saya. Bererti saya termasuk orang yang dianiaya. Tidakkah engkau pernah mendengar bahawa dosa orang yang dianiaya akan dihapuskan dan doanya pasti dikabulkan?”
Dengan penjelasan ini, komandan tentera makin tidak dapat menjawab. Ia hanya berjanji dalam hati untuk memarahi anak buahnya supaya bersikap lebih hormat kepada rakyat jelata.

TOKOH SUFI AWAL (11) : IBRAHIM BERKISAH TENTANG DIRINYA...



Ibrahim bin adham meriwayatkan, “Suatu malam saya tidur di bawah batu besar di Baitul Maqdis, di pertengahan malam, dua malaikat turun. Salah satunya bertanya kepada yang lain, ‘Siapa orang ini?’ Malaikat yang satu menjawab, ‘Dia adalah Ibrahim bin Adham.’ Malaikat yang satu berkata, ‘Orang itu termasuk orang-orang yang direndahkan derajatnya oleh Alloh Swt.’ Malaikat yang lain bertanya, ‘Mengapa demikian?’ .  ‘Orang itu telah membeli kurma. Ketika kurma seorang tukang sayur terjatuh, dan masuk ke dalam kurma orang itu, dia masih belum mengembalikan kepada pemiliknya.’
Setelah mendengar perbincangan malaikat malam itu, suatu hari saya kemudian kembali ke Basrah. Di sana saya membeli kurma pada orang laki-laki tersebut, kemudian saya jatuhkan satu kurmanya yang saya beli ke dalam kurmanya. Setelah itu saya pulang ke Baitul Maqdis dan tinggal di bawah batu besar.
Ketika tengah malam, tiba-tiba saya berdampingan dengan dua malaikat yang turun dari langit. Malaikat satu bertanya kepada yang lain, ‘Siapa orang ini?’ Yang lain menjawab, ‘Orang itu adalah Ibrahim bin Adham.’ ‘Kedudukan orang itu telah dikembalikan dan derajatnya ditinggikan.’”

TOKOH SUFI AWAL (10) : KU MECAPAI KEBAHAGIAAN HAKIKI ...KATA IBRAHIM



Ibrahim ditanya, "Sejak engkau menapaki jalan ini (jalan sufi), pernahkah engkau mengalami kebahagiaan?"
"Beberapa kali," jawabnya.
"Suatu kali, aku berada di atas kapal dan kaptennya tidak mengenaliku. Aku mengenakan pakaian penuh tambalan, rambutku tidak dipangkas, dan aku sedang mengalami ekstasi spiritual, yang mana semua orang di kapal itu tidak menyadarinya. Mereka menertawakan dan mengejekku. Ada seorang pelawak di kapal itu, sekali-sekali ia menghampiriku, menjambakku, mencabut rambutku, dan menampar leherku. Di saat itu, aku merasa bahwa aku telah memuaskan hasratku, dan merasa sangat bahagia karena begitu dipermainkan."
"Tiba tiba, gelombang besar muncul, dan semua orang dikapal itu takut bahwa mereka akan mati, 'Kita harus melemparkan seseorang ke laut agar beban kapal menjadi lebih ringan' pekik nakhoda. Mereka pun mencengkram tubuhku lalu melemparkanku ke laut. Gelombang pun mereda, dan kapal itu kembali stabil. Saat itu, ketika mereka menarik telingaku untuk melemparkanku ke laut, aku merasa bahwa aku telah memuaskan hasratku, dan aku merasa bahagia."
"Pada kesempatan lain, aku menuju sebuah masjid untuk tidur di sana. Mereka tidak membiarkanku tidur, sedangkan aku begitu lemah dan letihnya hingga tak bisa bangun. Maka, mereka pun memegang kakiku dan menyeretku keluar. Masjid itu memiliki tiga anak tangga; kepalaku membentur masing-masing anak tangga itu, dan darah pun mengalir keluar. Aku merasa bahwa aku telah memuaskan hasratku. Pada setiap anak tangga yang kulewati, misteri dari keseluruhan iklim menjadi terbuka untukku. Aku berkata, 'Andai masjid ini memiliki lebih banyak anak tangga untuk menambah kebahagiaanku!"'"Di waktu yang lain, aku tengah asyik dalam keadaan ekstasi. Seorang datang dan mengencingiku. Saat itu aku pun merasa bahagia."
"Pada kesempatan yang lain lagi, aku mengenakan sebuah jaket bulu yang dipenuhi dengan kutu. Kutu-kutu itu menyantapku tanpa belas kasihan. Seketika aku ingat akan pakaian pakaian bagus yang telah aku simpan di perbendaharaan hartaku. Jiwaku berteriak di dalam diriku, 'Mengapa, derita apa ini?' Saat itu pun aku merasa bahwa aku telah memuaskan hasratku."

TOKOH SUFI AWAL (9) : KESABARAN SYEIKH IBRAHIM BIN ADHAM



Kisah tentang seorang wali Allah yang tidak asing lagi dalam dunia Islam, Sayyidi Ibrahim bin Adham radhiyallahu'anh. Kisah ini dipetik dan diolah kembali daripada kitab "Kanzul Minan 'Ala Hikami Abi Madyan", yakni sebuah kitab yang mensyarahkan Hikam Abi Madyan radhiyallahu'anh yang telah disusun/ diterjemah oleh Syeikh Daud Abdullah al-Fatani.
Pada suatu hari, Sayyidi Ibrahim bin Adham sedang berjalan-jalan di pasar. Kemudian, beliau bertembung dengan seorang tentera. Mungkin diakibatkan oleh salah faham, atau mungkin diakibatkan oleh sikap tentera itu yang mahu menunjuk-nunjuk kuasanya, tentera tersebut telah memukul kepala Ibrahim bin Adham beberapa kali. Pada ketika itu, tentera itu tidak mengetahui bahawa yang dipukulnya itu adalah Ibrahim bin Adham. Sayyidi Ibrahim bin Adham langsung tidak membalas pukulan tersebut bahkan beliau hanya bersabar dengan perbuatan tentera tersebut.
Setelah kejadian tersebut berlaku dan Sayyidi Ibrahim bin Adham pun berlalu, maka sampailah pengetahuan kepada tentera tadi bahawa yang dipukulnya tadi adalah Ibrahim bin Adham. Tentera tersebut dengan segera mendapatkan Ibrahim bin Adham serta terus meminta maaf dengan bersungguh-sungguh kepada beliau. Ibrahim bin Adham lantas menyatakan kepada tentera itu, "Semenjak daripada pukulan pertama engkau kepadaku, aku telah berdoa agar Allah mengampunkan dosa engkau."
Tentera itu agak kehairanan dengan doa Sayyidi Ibrahim bin Adham tersebut, kerana perbuatan biadabnya terhadap Ibrahim bin Adham dibalasi dengan kemaafan daripada Ibrahim bin Adham. Tentera itu lantas bertanya kepada Ibrahim bin Adham, "Kenapa memaafkanku wahai tuan?"
Lantas dijawab oleh Sayyidi Ibrahim bin Adham, "Masakan tidak. Disebabkan pukulan daripada engkau dan aku bersabar dengannya, maka aku akan dimasukkan ke dalam syurga. Maka seharusnyalah aku berterima kasih kepada engkau. Justeru itu aku balasi dengan doa semoga Allah mengampuni kesilapan engkau."
Semenjak daripada saat itu, tentera itu terus beradab dengan Sayyidi Ibrahim bin Adham dan menjadi anak murid beliau.
Begitulah contoh akhlak dan sikap seorang wali Allah, seorang yang mempunyai kedudukan yang mulia di sisi Allah Subhanahu wa ta'ala. Seharusnya kita sebagai orang Islam berusaha untuk mencontohi akhlak mulia yang ditunjukkan oleh para 'ulama dan awliya' yang semuanya pada hakikatnya adalah merupakan limpahan daripada cahaya Rasulullah sallallahu 'alayhi wasallam.

TOKOH SUFI AWAL (8) : ENAM NASIHAT IBRAHIM KEPADA SEORANG PENDOSA DAN ZALIM

Pada suatu hari, ada seorang lelaki datang bertemu Ibrahim bin Adham.

“Wahai Abu Ishak (Ibrahim)! Saya seorang yang banyak berdosa dan zalim. Sudikah kiranya Tuan mengajar saya supaya menjadi zuhud, agar Allah menerangi jalan hidup saya dan melembutkan hati saya yang keras ini,” lelaki itu bertanya dan memohon bantuan.

“Kalau kau dapat memegang teguh enam ini, nescaya engkau akan selamat,” jawab Ibrahim.

“Apakah itu?” tanya lelaki tersebut.

“Pertama, apabila engkau hendak melakukan maksiat, janganlah engkau memakan rezeki Allah,” kata Ibrahim.

“Jika seluruh penjuru Bumi ini, baik di barat maupun di timur, di darat maupun di laut, dikebun dan gunung-gunung terkandung rezeki dari Allah, maka dari mana aku boleh mendapatkan makanan?” balas lelaki itu.

“Wahai saudaraku, mahukah engkau memakan rezeki Allah tatkala engkau melanggar peraturan-Nya?” balas Ibrahim.

“Tidak, demi Allah!, lalu apa yang kedua?” tanya lelaki itu.

“Kedua, jika engkau melakukan maksiat kepada Allah, janganlah tinggal dinegeri-Nya!” kata Ibrahim.

“Ibrahim, demi Allah yang kedua ini lebih berat. Bukankah bumi ini milik-Nya? Kalau demikian halnya, dimana aku harus tinggal?” lelaki itu membalas.

“Patutkah engkau makan rezeki dan tinggal di bumi-Nya walhal engkau bermaksiat kepada-Nya?” Ibrahim bertanya.

“Tidak, Tuan Guru!” jawab lelaki itu.

“Ketiga, jika engkau hendak melakukan maksiat, janganlah sesekali ingat bahwa Allah itu Maha Melihat dan anggaplah bahawa Dia lalai kepadamu,” kata Ibrahim.

“Tuan Guru, bagaimana aku boleh berbuat begitu, sedangkan Allah Maha Mengetahui segala rahsia dan melihat setiap hati nurani manusia,” kata lelaki itu.

“Layakkah engkau menikmati rezeki-Nya, tinggal dinegeri-Nya dan melakukan maksiat kepada-Nya, sedangkan Allah melihat dan mengawasimu?” tanya Ibrahim.

“Tentu saja tidak, wahai Tuan Guru. Jadi, apa yang keempat?”

“Yang keempat, apabila malaikat maut datang hendak mencabut nyawamu, maka katakan kepadanya ‘tunggulah dulu aku akan bertaubat’,” kata Ibrahim.

“Tuan Guru, itu tidak mungkin dan malaikat tidak mungkin mengabulkan permintaanku,” lelaki itu menjawab.

“Engkau tahu engkau tidak boleh menolak hasrat malaikat maut itu sedangkan dia akan datang kepada pada bila-bila saja, mungkin sebelum kamu bertaubat,” kata Ibrahim.

“Benar kata-katamu itu. Sekarang apa yang kelima?”

“Kelima, apabila datang Munkar dan Nakir kepadamu, lawanlah kedua malaikat itu dengan seluruh kekuatanmu, bila kau mampu,” kata Ibrahim.

“Itu tak mungkin, mustahil Tuan Guru!”

“Keenam, bila esok engkau berada di sisi Allah dan Dia menyuruhmu masuk neraka, katakanlah, ‘Ya Allah, aku tidak bersedia!” kata Ibrahim mengakhiri nasihatnya.

“Wahai Guru! Cukuplah, cukuplah nasihatmu itu!” jawab lelaki itu dan terus berlalu pergi, mungkin kerana merasa insaf akan perbuatannya yang lalu.