Selasa, 19 Februari 2013

KITAB ILMU IHYA ULUMUDDIN : HAKIKAT DAN BAHAGIAN-BAHAGIAN AKAL (SIRI 15)

Sambungan Bab 7......SIRI 15


Hakikat Akal Dan Bahagian Akal

PENJELASAN: Hakikat Akal dan bahagian-bahagian Akal.

Ketahuilah, bahwa berbeda pendapat orang tentang batas akal dan hakikatnya. Kebanyakan mereka melupakan bahwa nama tersebut dipakai kepada bermacam-macam arti. Itulah yang menjadi sebab perbedaan pendapat tadi.

Kebenaran yang menyingkap tutup mengenai akal itu ialah bahwa akal adalah suatu nama yang dipakai berserikat kepada empat arti, sebagaimana umpamanya nama mata dipakai kepada bermacam-macam arti.Dan apa yang berlaku tentang ini, maka tidaklah wajar dicari untuk semua bahagiannya, suatu batas saja. Tetapi hendaklah masing-masing bahagian disendirikan menjelaskannya.

Yang pertama : akal itu adalah suatu sifat yang membedakan manusia dari hewan. Dengan akal manusia bersedia untuk menerima berbagai macam ilmu nadhari (ilmu yang memerlukan pemikiran) dan untuk mengatur usaha-usaha yang pelik yang menghajati kepada pemikiran.

Akal itulah yang dimaksud oleh Al-Harts bin Asad Al-Muhasibi, di mana ia mengatakan tentang batas akal itu, yaitu : "Suatu gharizah (tabi'at) yang disediakan untuk mengetahui macam-macam ilmu nadhari".

Akal itu seolah-olah suatu nur (cahaya) yang dimasukkan ke dalam hati yang disediakan untuk mengetahui macam-macam hal.

Orang yang mengingkari apa yang tersebut di atas, tidak menginsa-fi, lalu mengembalikan akal itu kepada ilmu pengetahuan yang dharuri (yang tidak memerlukan pemikiran) semata-mata.Orang yang melengahkan ilmu pengetahuan dan orang yang tidur, keduanya dinamakan berakal, melihat kepada adanya gharizah tersebut, serta tak adanya ilmu pengetahuan.

Sebagaimana hidup adalah suatu gharizah untuk menyediakan tubuh bagi gerakan biasa dan pengetahuan ke pancainderaan,maka demikian pulalah akal adalah suatu gharizah untuk menyediakan sebahagian hewan (manusia) buat memperoleh ilmu pengetahuan nadhari.

Sekiranya bolehlah disamakan insan dengan keledai tentang gharizah dan pengetahuan kepanca inderaan, maka dapatlah dikatakan, bahwa tak adalah perbedaan antara keduanya, selain bahwa Allah Ta'ala - menurut adat yang berlaku - menjadikan pada insan itu ilmu pengetahuan dan tidak dijadikanNya pada keledai dan hewan-hewan lain, niscaya sesungguhnya bolehlah disamakan antara keledai dan barang keras (jamad) itu pada kehidupan. Dan dikatakan bahwa tak ada perbedaan antara keledai dan barang jamad selain daripada Allah Ta'ala menjadikan pada keledai itu gerakan-gerakan tertentu sepanjang kebiasaan yang berlaku. Kalau diumpamakan keledai itu benda keras yang mati, niscaya haruslah dikatakan bahwa tiap-tiap gerakan yang terlihat padanya, maka Allah Ta'ala kuasa menjadikannya pada yang keras itu, menurut tertib (pengaturan) yang kelihatan.

Dan sebagaimana harus dikatakan bahwa tak adalah perbedaan bagi benda keras (jamad) mengenai gerakan, selain dengan gharizah yang tertentu, maka dikatakanlah bahwa gharizah itulah hidup.
Demikian jugalah perbedaan insan dengan hewan tentang mengetahui ilmu pengetahuan nadhari dengan suatu gharizah yang disehut akal Maka akal itu adalah seperti cermin yang berbeda dengan benda-benda lain dalam segi memperlihatkan rupa dan warna, dengan suatu sifat yang khusus bagi cermin itu, yaitu sifat mengkilat.

Begitu juga mata, yang berbeda dengan dahi tentang sifat-sifat dan keadaan-keadaan yang ada pada mata, yang disediakan untuk melihat. Maka hubungan gharizah ini kepada ilmu pengetahuan adalah seperti hubungan mata kepada melihat. Hubungan Al-Quran dan syari'at kepada gharizah ini (akal) dalam segi mengantarkannya untuk membuka bermacam-macam ilmu pengetahuan, adalah seperti hubungan cahaya matahari kepada melihat.

Begitulah hendaknya dipahami gharizah akal ini.

Yang kedua : hakikat akal itu ialah ilmu pengetahuan yang timbul ke alam wujud pada diri anak kecil yang dapat membedakan tentang kemungkinan barang yang mungkin dan kemustahilan barang yang mustahil. Seperti mengetahui dua lebih banyak dari satu dan orang tidak ada pada dua tempat pada satu waktu. Inilah yang mendapat perhatian sungguh-sungguh dari sebahagian ulama ilmu kalam, yang menerangkan tentang batas akal itu, bahwa akal adalah sebahagian ilmu dlaruri (ilmu yang mudah yang tak memerlukan pemikiran). Seumpama mengetahui tentang kemungkinan barang yang mungkin dan kemustahilan barang yang mustahil. Dan hal itu betul pula, karena pengetahuan tersebut itu ada dan menamakan-nya akal memang jelas.

Yang tidak betul, ialah mengingkari gharizah itu dan mengatakan tidak ada. Yang ada, hanya pengetahuan itulah.

Yang ketiga : akal itu, ialah ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman dengan berlakunya bermacam-macam keadaan. Maka orang yang telah diperkokoh pemahamannya oleh pengalaman-pengalaman dan dicerdaskan oleh beberapa aliran, maka dikatakan orang itu biasanya berakal. Yang tidak bersifat dengan sifat tadi, maka dikatakan : orang bodoh, tak berketentuan, jahil.Inilah macam yang lain dari ilmu pengetahuan yang dinamakan akal.

Yang keempat : bahwa kekuatan dari gharizah itu berpenghabisan sampai kepada mengetahui akibat dari segala hal dan mencegah hawa nafsu yang mengajak kepada kesenangan yang dekat dan menundukkannya.Apabila telah berhasil kekuatan ini, maka orang yang mempunyai kekuatan tersebut din am akan berakal, di mana majunya dan mundumya adalah menurut yang dikehendaki pertimbangan mengenai akibat-akibatnya, tidak menurut hukum hawa nafsu yang dekat itu.

Ini juga adalah dari sifat-sifat khas manusia yang membedakan dia dari hewan yang lain.

Maka yang pertama di atas tadi, adalah asas, pokok dan sumber. Yang kedua adalah cabang yang lebih dekat kepada yang pertama. Yang ketiga adalah cabang bagi yang pertama dan kedua. Karena dengan kekuatan gharizah dan ilmu dlaruri itu, dapatlah diambil faedah segala ilmu pengalaman. Dan yang keempat, yaitu hasil yang penghabisan yaitu tujuan yang terjauh.


Maka dua yang pertama (yang pertama dan kedua) adalah dengan karakter (tabi'at). Dan dua yang penghabisan (yang ketiga dan keempat) adalah dengan diusahakan.

Dari itu bermadahlah Ali ra. :

Aku melihat akal itu dua,

menurut karakter dan yang didengar.

Tidak bergunalah yang didengar,

apabila yang karakter tidak ada.

Seperti tidaklah berguna matahari,

bila cahaya mata itu terlindungi .....................................

Yang pertama itu, itulah yang dimaksudkan dengan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم. :

ما خلق الله عز وجل خلقا أكرم عليه من العقل

 (Maa khalaqallaahu  Azza wa Jalla khalqan akrama 'alaihi minal aqli ).

Ertinya :"Tidak dijadikan oleh Allah Ta'ala suatu makhluk yang terlebih mulia padaNya, daripada akal".  Dan yang penghabisan, yaitu yang dimaksudkan dengan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم.:

Dan yang penghabisan, yaitu yang dimaksudkan dengan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم.

والأخير هو المراد بقوله صلى الله عليه وسلم:  إذا تقرب الناس بأبواب البر والأعمال الصالحة فتقرب أنت بعقلك

(Idzaa taqarraban naasu biabwaabil birr: wal a'-maalish-shaalihaati fataqarrab anta bi'aqlika).
Ertinya :"Apabila manusia itu mendekati Tuhan dengan pintu pintu kebajikan dan amal salih,maka engkau dekatilah Tuhan dengan akal-mu".

Hadits inilah yang dimaksudkan dengan sabda Nabi saw. kepada Abid-Darda' ra. :ازدد عقلا تزدد من ربك قربا "Bertambahlah akalmu supaya engkau bertambah dekat dengan Tuhanmu".

Berkata Abid-Darda' :"Demi ibu-bapaku ya Rasulullah! Bagaimanakah bagiku dengan yang demikian itu?".

Menjawab Nabi saw.:اجتنب محارم الله تعالى وأد فرائض الله سبحانه تكن عاقلا واعمل بالصالحات من الأعمال تزدد في عاجل الدنيا رفعة وكرامة وتنل في آجل العقبى بها من ربك عز وجل القرب والعز

Jauhilah semua yang diharamkan Allah, tunaikanlah segala yang diwajibkan Allah, maka adalah engkau orang yang berakal! Kerjakanlah segala amal salih, niscaya engkau bertambah tinggi dan mulia di dunia yang tidak lama ini. Dan engkau memperoleh padahari akhirat yang akan datang,dari Tuhan-mu 'Azza wa Jalla, akan kedekatan dan kemuliaan". ( Dirawikan Ibnul Mahbar dari Al Harits bin Abl Usamah  )

Dari Sa'id bin Al-Musayyab, bahwa Umar, Ubai bin Ka'ab dan Abu Hurairah ra. datang kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم. seraya bertanya : "Ya Rasulullah! Siapakah yang terbanyak ilmu diantara manusia?".

Menjawab Nabi صلى الله عليه وسلم. : "Orang yang berakal!".

Bertanya mereka itu lagi : "Siapakah yang terbanyak berbuat ibadah?".

Menjawab Nabi صلى الله عليه وسلم : "Orang yang berakal!".

Bertanya mereka itu iagi : "Siapakah yang lebih utama diantara manusia?".

Menjawab Nabi صلى الله عليه وسلم : "Orang yang berakal!".

Bertanya mereka itu lagi : "Bukankah orang yang berakal itu, orang yang sempurna kepribadiannya, yang terang kelancaran lidahnya, yang murah tangannya dan tinggi kedudukannya?".

Menjawab Nabi صلى الله عليه وسلم : "Kalaulah benar itu semuanya, tentu tidaklah kesenangan hidup dunia dan akhirat pada sisi Tuhanmu teruntuk bagi orang yang bertaqwa". (3. Dirawikan Ibnu MahBar dari Said Bin Al Musayyab)


Orang yang berakallah yang taqwa, meskipun di dunia dia hina dan rendah.

 Bersabda Nabi صلى الله عليه وسلم.pada hadits lain :

 إنما العاقل من آمن بالله وصدق رسله وعمل بطاعته

"Sesungguhnya yang berakal ialah orang yang beriman kepada Allah, membenarkan rasul-rasul Allah dan berbuat amalan ta'at kepada Allah

 Serupalah menurut asal bahasanya, nama "akal" itu diuntukkan kepada gharizah itu. Begitu juga menurut pemakaiannya. Dan sesungguhnya ditujukan kepada ilmu pengetahuan, adalah dari segi bahwa ilmu pengetahuan itu adalah hasil gharizah sebagaimana sesuatu itu dikenal dengan hasilnya. Maka dikatakanlah, ilmu itu ialah takut kepada Tuhan. Orang yang berilmu (alim ulama), ialah orang yang takut kepada Allah Ta'ala. Maka takut adalah buah dari ilmu. Lalu "akal" adalah sebagai perkataan yang dipinjam, dipergunakan bagi lain dari gharizah itu.

Tetapi maksud di sini tidaklah membahas bahasa. Yang dimaksudkan ialah bahwa bahagian yang empat itu ada. Dan nama "akal", itu ditujukan kepada semuanya. Dan tak adalah perbedaan pendapat tentang adanya semuanya, kecuali mengenai bahagian yang pertama (gharizah).

Yang benar, ialah adanya gharizah itu. Bahkan dialah yang pokok. Semua ilmu pengetahuan itu seolah-olah terkandung dalam gharizah itu menurut fithrah (kejadian manusia). Tetapi baru lahir kealam kenyataan, apabila telah berlaku sebab yang melahirkannya kealam wujud. Sehingga seakan-akan semua ilmu pengetahuan itu tidaklah merupakan sesuatu yang datang kepadanya dari luar. Dan seakan-akan ilmu-ilmu itu adalah yang tersembunyi pada fithrah, maka lahir kemudian kealam nyata.

Contohnya, adalah seperti air dalam bumi, lahir dengan dikorek sumur, berkumpul dan dapat diperbedakan dengan pancaindera. Tidaklah dengan didatangkan benda baru ke dalam bumi tadi.

Begitu juga minyak pada kelapa dan air mawar pada bunga mawar. Karena itu berfirman Allah Ta'ala :

 وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِي آدَمَ مِنْ ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَى أَنْفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ قَالُوا بَلَى

 (Wa idz akhadza rabbuka min Banii Aadama min dhnhnnrihim dzurriyyatahum wa asyhadahum 'alaa anfusihim alastu birabbikum qaaluu balaa).

Ertinya: "Dan ketika Tuhan kamu menjadikan turunan anak-anak Adam dari punggungnya dan Tuhan mengambil kesaksian dari mereka sendtri, kataNya;Bukankah Aku ini Tuhan kamu ?. Mereka menjawab : "Ya'” ( S. Al-A'raaf, ayat 172).

Yang dimaksudkan dengan itu ialah pengakuan jiwa mereka,tidak pengakuan lidah. Dalam pengakuan lidah, manusia itu terbagi, menurut lidah dan orangnya kepada yang mengaku dan yang mungkir.

Dari itu berfirman Allah Ta'ala :


وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَهُمْ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ

(Wa lain sa-altahum man khalaqahum layaquulunnallaah).

Ertinya :"Dan kalau engkau tanya akan kepada mereka. Siapakah yang menciptakan mereka? Sudah tentu mereka akan menjawab "Allah".(S. Az-Zukhruf, ayat 87).

Ertinya :"Jika diperhatikan keadaan mereka, maka akan naik saksi-lah jiwa dan bathin mereka dengan yang demikian, sebagai fithrah kejadian, yang dijadikan Allah akan manusia dengan demikian".

 Ertinya : seluruh anak Adam itu dijadikan menurut fithrahnya, beriman kepada Allah 'Azza wa Jalla. Bahkan segala sesuatu itu diketahuinya menurut fithrahnya. Yakni fithrah itu sebagai yang menjamin karena dekat persediaannya untuk mengetahui itu.

Kemudian, tatkala adalah iman itu dipusatkan pada jiwa menurut fithrah, maka manusia itu terbagi kepada dua : orang yang berpaling  dari Tuhan lalu lupa, yaitu orang-orang kafir : dan orang yang lambat terlintas di hatinya, tetapi teringat kemudian. Maka orang yang kedua ini, adalah seperti orang yang mempunyai ijazah, maka lupa di mana diletakkannya, kemudian dia teringat.

 Dari itu berfirman Allah Ta'ala :

لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُون

(La'allahum yatadzakkaruun).

Ertinya :"Moga-moga mereka itu teringat". (S. Al-Baqarah, ayat 221).

وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الألْبَابِ

(Wa liyatadzakkara ulul-albaab).

Ertinya :"Dan supaya teringatlah orang-orang yang berakal".(S. Shad, ayat 29).


وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُمْ بِهِ

(Wadz-kuruu ni'matallaahi 'alaikum wa miitsaaqahul-ladzii waa tsa-qakum bjh).

Ertinya:"Dan kenangkanlah kurnia Tuhan kepada kamu dan ingatilah janji yang telah kamu ikat dengan Dia". (S. Al-Maidah, ayat 7).

وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُدَّكِرٍ

(Wa laqad yassarnal qur-aana lidz-dzikri, fa-hal min muddakir).


Ertinya :"Dan sesungguhnya Al-Qur'an itu Kami mudahkan untuk diingati, tetapi adakah orang yang mengambil pelajaran!".(S. Al-Qamar, ayat 17).

Menamakan yang semacam ini dengan peringatan, tidaklah begitu jauh untuk dipahami. Maka seakan-akan peringatan itu dua macam : semacam mengingati gambaran yang sudah ada di dalam hati, tetapi hilang sesudah ada. Dan semacam lagi mengingati gambaran yang sudah ada, terkandung dalam hati dengan fithrah. Inilah hakikat kebenaran yang nyata, bagi orang yang memperhati-kan dengan nur mata hatinya (bashirahnya). Tetapi berat bagi orang yang mempergunakan saja pendengaran dan taqlid tanpa melihat dengan mata hati dan mata kepala.

 Dari itu anda melihat orang tersebut, terpukul dengan ayat-ayat seperti itu dan memutar-balikkan tentang ta'wil peringatan dan pengakuan jiwa dengan bermacam-macam pemutar-balikan. Dan terbayang kepadanya berbagai macam pertentangan maksud tentang hadits dan ayat itu.

Kadang-kadang hal itu keras sekali sehingga dipandangnya dengan pandangan penghinaan dan timbul keyakinan kepadanya bahwa itu kekacau-balauan.

Orang yang seperti itu adalah seumpama orang buta yang masuk ke sebuah rumah. Maka tersandunglah kakinya, dengan tempat air yang tersusun rapi dalam rumah itu, lalu ia mengatakan :"Mengapakah tempat-tempat air ini tidak diangkat dari jalan tempat lalu dan dikembalikan kepada tempatnya semula?".

Menjawab orang yang mendengar : "Bahwa tempat-tempat air itu adalah di tempatnya. Hanya mata saudara sendiri yang salah dan rusak!".

Maka begitu pulalah orang yang rusak mata hatinya. berlaku seperti itu yang lebih hebat dan lebih besar akibatnya. Karena jiwa adalah Iaksana orang yang mengendarai kuda dan badan adalah Iaksana kuda. Buta yang mengendarai kuda adalah lebih membahayakan daripada buta kuda.


Karena serupanya mata bathin dengan mata dhahir, maka berfirman Allah Ta'ala :

 مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَأَى

(Maa kadzabal fuaadu maa ra-aa).


Ertinya : "Hati tidak mendustakan apa yang dilihatnya". (S. An-Najm, ayat 11).

Dan berfirman Allah Ta'ala :

 وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ

(Wa kadzaalika nurhlbraahiima malakuutas-samaawaati wal ardli). Artinya :

"Dan begitulah Kami perlihatkan kepada Ibrahim kerajaan langit dan bumi".

(S. Al-An'am, ayat 75).

Lawan melihat dinamakan buta : Berfirman Allah Ta'ala :

فَإِنَّهَا لا تَعْمَى الأبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

(Fa-innahaa laa ta*mal abshaaru wa laakin ta'mil quluubullatii fish-shuduur).

Ertinya :"Sesungguhnya tidaklah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada(S. Al-Hajj, ayat 46).

Dan berfirman Allah Ta'ala :

وَمَنْ كَانَ فِي هَذِهِ أَعْمَى فَهُوَ فِي الآخِرَةِ أَعْمَى وَأَضَلُّ سَبِيلا

(Wa man kaana fii haadzihii a'maa fahuwa fil aakhirati a'maa wa adlallu sabiila).

Ertinya :"Barangsiapa yang buta di dunia ini,maka di akhirat dia buta juga dan lebih sesat jalannya ".(S. Al-Isra', ayat 72).

Segala hal inilah yang di buka kepada para Nabi. Sebahagiannya adalah dengan mata kepala dan sebahagian lagi adalah dengan mata hati. Dan semuanya itu dinamakan melihat.

Kesimpulannya, orang yang tidak tembus penglihatan mata hatinya, maka tidaklah tersangkut agama padanya, selain kulitnya dan yang seperti kulit itu. Tidak isinya dan hakikatnya.

Inilah bahagian-bahagian itu, yang dipakai nama "akal" padanya.

FUTUHUL GHAIB KE 49 : JANGAN TIDUR BERLEBIHAN (SYAIKH ABDUL QADIR AL JILANI)

AJARAN KEEMPAT PULUH SEMBILAM

JANGAN TIDUR BERLEBIHAN

Barangsiapa lebih menyukai tidur daripada salat malam, yang membawa ke arah ketakwaan, bererti ia memilih sesuatu yang buruk, sesuatu yang mematikannya dan membuatnya acuh tak acuh terhadap segala keadaan. Sebab, tidur adalah saudara kematian. Kerananya, Allah tak tidur, sebab Ia bersih dari segala kecacatan. Begitu pula dengan para malaikat, sebab mereka senantiasa amat dekat dengan Allah Yang Maha kuasa lagi Maha agung. Begitu pula dengan penghuni langit, sebab mereka sangat mulia dan suci, sebab tidur akan menghancurkan keadaan hidup mereka. Jadi, kebaikan terletak pada keberjagaan, sedang keburukan terletak pada ke-tidur-an dan ketak acuhan terhadap upaya.

Nah, barangsiapa makan, minum dan tidur berlebihan, maka lenyaplah kebaikan dari dirinya. Barangsiapa makan sedikit dari yang haram, maka ia serupa dengan orang yang makan banyak dari yang halal. Sebab sesuatu yang haram menggelapi iman. Bila iman gelap, maka doa, ibadah dan jihad tak maujud. Barangsiapa makan banyak dari yang halal berdasarkan perintah Allah, maka ia menjadi seperti orang yang makan sedikit dengan penuh pengabdian. Jadi, sesuatu yang halal ialah cahaya yang ditambahkan pada cahaya, sedang sesuatu yang haram ialah kegelapan yang ditambahkan pada kegelapan, yang didalamnya tiada kebaikan; maka makan sesuatu yang halal dengan berlebihan, tak merujuk kepada perintah, adalah seperti makan sesuatu yang haram, dan hal itu menyebabkan tidur, yang di dalamnya tiada kebaikan.

Senin, 18 Februari 2013

FUTUHUL GHAIB KE 48 : TERTUNAI YANG WAJIB DAN YANG SUNNAH (SYAIKH ABDUL QADIR AL JILANI)

AJARAN KEEMPAT PULUH LAPAN

TERTUNAI YANG WAJIB DAN YANG SUNNAH
Seorang mukmin, pertama-tama, menunaikan yang wajib. Bila ia telah menunaikan yang wajib, maka ia menunaikan yang sunnah. Bila ia telah menunaikan keduanya, maka ia menunaikan yang tambahan. Nah, bila seseorang belum melaksanakan yang wajib, sedang ia melaksanakan yang sunnah, maka hal itu merupakan kebodohan, takkan diterima dan ia akan hina. Ia seperti orang yang diminta untuk mengabdi kepada raja, namun ia tidak mengabdi kepadanya, tapi ia mengabdi kepada hamba sang raja yang berada di bawah kekuasaannya. Diriwayatkan oleh Ali, putera Abu Thalib (as), bahwa Nabi Suci saw. berkata: “tentang Ibarat orang yang menunaikan yang sunnah, padahal ia belum menunaikan yang wajib, ialah seperti wanita hamil yang keguguran di kala akan melahirkan. Dengan demikian, ia tidak hamil lagi dan tidak jadi menjadi ibu.”

Begitu pula dengan orang yang beribadah, yang Allah tidak menerima penunaiannya akan yang sunnah, sebelum ia menunaikan yang wajib. Hal ini juga seperti usahawan yang takkan mendapatkan keuntungan apa pun sebelum ia mengelola modalnya. Begitu pula dengan orang yang menunaikan yang sunnah, yang takkan diterima jerih payahnya itu, sebelum ia menunaikan yang wajib. Begitu pula dengan orang yang mengabaikan yang sunnah, dan menunaikan hal-hal yang tidak ditentukan oleh aturan apa pun. Nah, di antara kewajiban-kewajiban itu ialah penjauhan dari yang haram, dari mengabaikan ketentuan-Nya, dari menimpali suara manusia, dari mengikuti kehendak mereka, dari berpaling dari perintah Allah, dan dari Ketakpatuhan kepada-Nya. Nabi saw. bersabda: “Tiada kepatuhan, selagi masih berbuat dosa terhadap Allah.”

APAKAH SOLATMU DITERIMA ALLAH?

Dalam sebuah hadits qudsi Allah SWT berfirman

“Sesungguhnya Aku (Allah) hanya akan menerima solat orang orang yang merendahkan dirinya kerana kebesaranKu, dia tidak sombong dengan makhlukKu yang lain, dia menyayangi orang orang miskin dan menderita, menahan diri dari hawa nafsunya kerana Aku, melazimkan hatinya untuk takut kepadaKu, memberi makan pada yang lapar, dan memberi pakaian bagi yang telanjang, memberi perlindungan bagi orang yang kena musibah dan orang orang yang terasing. Kelak cahaya orang itu akan bersinar seperti cahaya matahari, Aku akan berikan cahaya ketika dia kegelapan, Aku akan berikan ilmu ketika ia tidak tahu, Aku akan lindungi dia dengan kebesaranKu, akan Kusuruh malaikat untuk menjaganya, jika ia berdoa, Aku akan menjawabnya, kalau dia meminta, Aku akan segera memenuhinya, perumpamaannya di hadapanKu seperti perumpamaan firdaus“.

Menurut hadits qudsi diatas, tanda orang yang diterima solatnya oleh Allah Swt adalah sebagai berikut :

Pertama, Mereka yang datang dengan merendahkan dirinya kepada Allah.

Yang dimaksud dengan merendahkan diri dihadapan Allah swt dalam solat adalah bahwa kita datang menghadapNya dalam rangka memohon pertolongan bukan untuk ujub dan sum’ah (merasa bangga dan kagum dengan diri sendiri) , kerana itu kita mesti mengakui segala kekurangan kita, menyadari betapa kita sangat kecil dihadapan kebesaranNya, kita tidak memiliki kekuatan apapun kecuali atas pertolonganNya. Memang kecacatan pertama dalam beribadah adalah bangga dengan diri sendiri, kerana itu buanglah segala macam kesombongan, ujub dan riya’, lalu serahkan semua urusan dan bertawakallah secara total kepa Allah swt.

Kedua, Mereka yang tidak sombong dengan makhluk Allah yang lain.

Dihadapan Allah setiap manusia mempunyai kedudukan yang sama, tidak ada manusia yang lebih suprior atau inferior terhadap manusia lainnya. Demikian juga tidak ada suatu ras, suku, kelompok atau bangsa yang lebih tinggi atau lebih rendah dari ras, suku, kelompok atau bangsa lainnya, semuanya berkedudukan sama dihadapan Allah, yang membezakan mereka hanyalah kadar ketaqwaannya. “Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu” (Qs.49 : 13)

Ketiga, Mereka yang menyayangi orang-orang miskin dan menderita.

Menurut Alqur’an, orang yang enggan memberi pertolongan kepada orang-orang miskin tetapi mendirikan solat tetap disebut mendustakan agama dan celaka. Disebutkan ” Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim, Dan tidak memberi makan orang miskin. Maka celakalah bagi orang-orang yang solat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari solatnya, yang menjadikan solat sebagai alat berbuat riya, Dan enggan memberi pertolongan kepada orang miskin dengan barang berguna (Qs. 107 : 1-7)
Jadi bila ada orang rajin solat tetapi tidak pernah memberi makan orang miskin maka solatnya tidak diterima, demikian juga bila ada orang rajin memberi makan orang miskin tetapi tidak pernah melakukan solat, maka iapun tidak dihitung sebagai solat yang diterima. Dalam pandangan Islam, orang yang solat tetapi solatnya tidak member impak positif kepada persekitaran dan orang lain, maka ia tidak dihitung solat sekalipun melaksanakan solat.

Keempat, Mereka yang dapat menahan nafsu dari setiap keinginan yang dilarang Allah.

Orang yang betul-betul menegakkan solat mestinya dapat mengekang dan mengendalikan hawa nasfsunya dari perbuatan yang dilarang Allah, kerana memang salah satu maksud dari mendirikan solat adalah dalam rangka mencegah yang bersangkutan dari perbuatan keji dan mungkar. sebagaimana disebutkan dalam Qs. 29 : 45 ” Dan Dirikanlah solat. Sesungguhnya solat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar “.

Dalam sebuah hadits disebutkan ” Kalau solat seseorang tidak mencegah dirinya dari berbuat keji dan mungkar maka solatnya tidak menambah sesuatu kecuali hanya akan menjauhkannya dari Allah Swt”.

Kelima. Mereka yang banyak berdzikir kepada Allah Swt

Salah satu tujuan solat adalah untuk berdzikir kepada Allah, sebagaimana ditegaskan alqur’an Assholatu lidzikiri. (bersolatlah untuk berdzikir kepadaKu). Berdzikir artinya mengingat Allah, Ketika kita mengingat Allah maka Allah juga akan mengingat kita, sebagaimana janjiNya ” ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku”.
Semakin sering kita mengingat Allah, semakin sering pula Allah mengingat kita (Qs. 62 : 10). Ketika Allah sering mengingat kita, maka Allah akan bersama kita, mencintai kita dan menolong kita, bila Allah telah menjadi penolong kita, maka tidak ada satupun hal yang sulit bagi kita dalam menjalankan kehidupan ini. Sebaliknya orang yang solat tetapi tidak berdzikir kepada Allah, berarti ia gagal dalam solatnya.

Keenam, Mereka yang mempunyai kepekaan dan kesedaran sosial dan kemanusiaan yang tinggi .

Dalam sebuah hadits Rasulullah saw menegaskan : Perumpamaan kaum muslimin dalam hal jalinan kasih sayang, kecintaan dan kesetia kawanan ibarat satu tubuh, bila salah satu anggota tubuhnya sakit, maka yang lainpun ikut juga merasakannya. Mereka Ibarat satu bangunan, yang satu menguatkan yang lainnya. Kerana itu menurut baginda, barang siapa diantara kaum muslimin yang tidak memperhatikan urusan kaum muslimin yang lain, maka mereka bukan termasuk golongan umat Islam.

Maka bila sering solat tetapi tidak peka dengan nasib saudaranya yang lain, tidak memiliki kesedaran sosial yang tinggi, maka bererti kita masih tergolong dalam kelompok yang disebut Nabi saw sebagai “akan datang suatu zaman dimana orang berkumpul di masjid untuk solat berjamaah tetapi tidak satupun diantara mereka yang beriman “dan tidak satupun juga yang dihitung sebagai orang yang menegakkan solat.

Dari huraian diatas dapat dilihat bahwa solat yang akan diterima oleh Allah Swt adalah solat yang tidak saja memberikan keuntungan dan manfaat kepada individu yang melakukannya, tetapi yang lebih penting adalah mempunyai akses dan nilai manfaat sosial kemasyarakatan yang luas.

Kalau kita mampu melakukan itu semua, maka berarti solat kita telah diterima dan Allah akan melindungi kita dengan kebesaranNya. Perlindungan itu bukan saja dapat diperoleh di akhirat kelak, tetapi juga di dunia. Allah Swt berfirman dalam Qs. 41 : 31 “Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat; di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta

TOKOH SUFI KLASIK SAHL AT TUSTARI BAHAGIAN 2 : MASA REMAJANYA

Mengenai dirinya sendiri, Sahl bin Abdullah at-Tustari berkisah sebagai berikut ini.

Aku masih ingat ketika Allah bertanya, "Bukankah Aku Tuhanmu?", dan aku menjawab, "Ya, sesungguhnya Engkau-lah Tuhanku". Aku pun masih ingat ketika berada di dalam rahim ibuku.

Umurku baru tiga tahun ketika aku mulai beribadah sepanjang malam. Pamanku yang bernama Muhammad bin Shawwar pernah menangis karena terharu menyaksikan perbuatanku itu dan berkata kepadaku: "Tidurlah Sahl Engkau membuatku cemas".

Secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan aku senantiasa mematuhi anjuran-anjuran paman. Pada suatu hari aku berkata kepadanya, "Paman, aku mendapatkan sebuah pengalaman yang sangat aneh. Aku seolah-olah melihat kepalaku bersujud di depan tahta".

"Rahasiakanlah pengalaman ini dan jangan 'katakan kepada siapa pun juga", paman menasehatiku. Kemudian ia menambahkan, "Apabila di dalam tidur tubuhmu gelisah, ingatlah dirimu. Dan apabila lidahmu bergerak ucapkanlah: 'Allah besertaku, Allah me-melihara diriku, Allah menyaksikan diriku' ".

Saran ini kulaksanakan dan hal ini kusampaikan kepadanya.
"Ucapkanlah kata-kata itu tujuh kali setiap malam", paman menyarankan. Kemudian kusampaikan kepadanya bahwa saran itu telah kulaksanakan.


"Ucapkanlah kata-kata itu lima belas kali setiap malam". Saran paman kulaksanakan dan kesyahduan memenuhi kalbu-ku. Setahun telah berlalu. Kemudian paman berkata kepadaku:

''Laksanakanlah saran-saranku itu terus-menerus hingga ke liang kuburmu. Hasilnya adalah milikmu sendiri baik di dunia ini maupun di akhirat nanti".

Beberapa tahun berlalu. Aku senantiasa melakukan hai yang serupa sehingga kesyahduan itu menembus ke dalam lubuk hatiku yang terdalam. Paman berkata kepadaku:

"Sahl, jika Allah menyertai seseorang manusia dan menyaksikan dirinya, bagaimanakah ia dapat mengingkari-Nya? Allah menjaga dirimu sehingga engkau tidak dapat mengingkari-Nya".

Setelah itu aku pergi mengasingkan diri. Kemudian tiba waktu-nya aku hendak disekolahkan. Aku berkata, "Aku kuatir kalau konsentrasiku akan buyar. Buatlah sebuah persyaratan dengan guru, bahwa aku akan hadir selama satu jam dan belajar dengan sedapat-dapatnya, tetapi setelah itu aku boleh pergi untuk melakukan urusan-ku yang sesungguhnya".

Dengan syarat itu barulah aku mau disekolahkan dan mempelajari al-Qur'an. Pada waktu itu usiaku baru tujuh tahun. Sejak itu aku terus-menerus berpuasa, sedang makananku satu-satunya adalah roti. Ketika berusia dua belas.tahun aku dihadapkan kepada sebuah masalah yang belum terpecahkan oleh siapa pun juga. Maka aku bermohon agar aku dikirimkan ke Bashrah untuk mencari jawaban masalah ini. Aku tiba di Bashrah, bertanya-tanya kepada para cendekia di kota itu, tetapi tak seorang pun di antara mereka dapat menjawab pertanyaanku. Dari Bashrah aku melanjutkan perjalanan ke Abbadan untuk menemui seorang yang bernama Habib bin Hamzah. Dialah yang dapat menjawab pertanyaanku itu. Untuk beberapa lamanya aku tinggal bersama Habib bin Hamzah dan banyak faedah yang kupetik dari pelajaran-pelajarannya.

Kemudian aku pergi ke Tustar. Pada waktu itu makananku sehari-hari sudah sedemikian sederhana: Dengan uang satu dirham untuk pembeli tepung yang kemudian digiling dan dibakar menjadi roti. Setiap malam menjelang fajar tiba aku berbuka puasa dengan sedikit roti tawar. Dengan cara yang seperti ini uang satu dirham itu dapat kumanfaatkan untuk setahun.

Setelah itu aku bertekad hendak berbuka puasa sekali dalam tiga hari, kemudian sekali dalam lima hari, kemudian sekali dalam tujuh hari, dan demikianlah seterusnya sehingga sekali dalam dua puluh hari. (Menurut salah satu riwayat, Sahl menyatakan bahwa ia pernah berbuka puasa sekali dalam tujuh puluh hari). Kadang-kadang aku hanya memakan satu buah badam untuk setiap empat puluh hari.

Untuk beberapa tahun aku melakukan percobaan-percobaan dengan rasa kenyang dan lapar. Pada awal mulanya aku mendapatkan bahwa aku merasa lemah karena lapar dan merasa kuat karena kenyang. Tetapi di kemudian hari aku mendapatkan bahwa aku merasa kuat karena lapar dan merasa lemah karena kenyang. Maka bermohonlah aku kepada Allah, "Ya Allah, tutuplah kedua mata Sahl, sehingga ia melihat kenyang di dalam lapar dan melihat lapar di dalam kenyang, karena keduanya berasal dari Engkau juga".

TOKOH SUFI KLASIK SAHL AT TUSTARI BAHAGIAN 1 : KENAL ALLAH SEJAK UMUR 3 TAHUN

Muhammad bin Mudzaffar berkata, “Ketika umur Sahl bin Abdullah at-Tustari 3 tahun, ia sering bangun malam melihat pamannya Muhammad bin Siwar yang sedang qiyamullail (shalat malam). Pamannya juga sering membangunkannya sambil berkata, ‘Bangunlah nak, lihatlah, hati ini sangat sibuk mengingat Allah!’

Ketika Sahl melihat pamannya sibuk shalat malam, pamannya bertanya, ‘Mengapa kamu tidak berdzikir kepada Allah yang telah menciptakanmu.’ Si keponakan bertanya kepada pamannya, ‘Bagaimana caranya aku berdzikir kepada Allah?’

Si Paman menjawab, ‘Ucapkanlah, … Allah senantiasa bersamaku, Allah senantiasa melihatku dan Allah senantiasa memperhatikanku,ucapkanlah bacaan itu 3 kali pada setiap malam.’ Bacaan tersebut diamalkannya beberapa malam. Sampai kemudian sang paman menganjurkannya agar ia mengucapkan bacaan tersebut sebanyak 7 kali, ia pun mengamalkannya dalam beberapa malam. Kemudian pamannya menyuruhnya agar membaca bacaan tersebut sebanyak 11 kali. Sang keponakan mentaati perintah pamannya sampai beberapa waktu. Ternyata dari bacaan itu jiwa dan hati Sahl merasa bahagia.

Kemudian ia menceritakan apa yang dialaminya ini kepada pamannya. Lalu pamannya menasehati, ‘Wahai Sahl, orang yang selalu merasa bahwa Allah senantiasa bersamanya, Allah senantiasa melihatnya dan bahwa Allah senantiasa memperhatikannya, mana mungkin ia berbuat maksiat kepadaNya! Hati-hati, jangan sekali-kali engkau durhaka kepada Allah!!’

Terdapat suatu riwayat yang sampai kepadaku pula bahwa Abu Muhammad yakni Sahl bin Abdullah telah hafal al-Qur’an pada usia 6 tahun. Sedang pada usia 12 tahun dia sudah biasa memberikan fatwa tentang beberapa masalah yakni dalam hal zuhud, wara’, kedudukan iradah, fikih ibadah dan lain-lain.” (Anba’ Nujabail Abna’, hal. 188.)

Abdurrahman bin Muhammad pengarang kitab Shifatul Auliya’ wa Maratibul Ashfiya’ meriwayatkan dengan sanad beliau, beliau berkata, “Sahl sudah terbiasa berdzikir kepada Allah sejak usia 3 tahun. Terbiasa puasa sejak usia 5 tahun hingga wafatnya. Sudah mulai bepergian untuk menuntut ilmu pada usia 9 tahun.”

Bahkan banyak problem-problem dalam berbagai masalah yang ditanyakan kepada para ulama lain namun mereka tidak bisa menjawabnya kemudian baru terpecahkan setelah ditanyakan pada Sahl bin Abdullah. Padahal ketika itu usianya baru 12 tahun. Semenjak itu sudah nampak adanya karamah pada dirinya. Wallahu A’lam. (Anba’ Nujabail Abna’, hal. 191.)


 

TOKOH SUFI KLASIK HARITS AL MUHASIBI KE 6 : PANDANGAN TASAWUF AL - MUHASIBI

Al-Harits bin Asad Al-Muhasibi (w.243 H) menempuh jalan tasawuf karena hendak keluar dari keraguan yang dihadapinya. Tatkala mengamati madzhab-madzhab yang dianut umat islam. Al-muhasibi menemukan kelompok didalamnya. Diantara mereka ada sekelompok orang yang tahu benar tentang keakhiratan, anmun jumlah mereka sangat sedikit. Sebagian besar dari mereka adalah orang-orang yang mencari ilmu karena kesombongan dan motivasi keduniaan. Diantara mereka terdapat pula orang-orang terkesan sedang melakukan ibadah karenaAllah,tetapi sesunguhnya tidak demikian.

Al-Muhasibi memandang bahwa jalan keselamatan hanya dapat ditempuh melalui ketakwaan kepada Allah, melaksanakan kewajiban-kewajiban, wara’, dan meneladani Rasulallah. Menurut Al-Muhasibi, tatkala sudah melaksanakan hal-hal diatas, maka seorang akan diberi petunjuk oleh Allah berupa penyatuan antara fiqh dan tasawuf. Ia akan meneladani Rasulallah dan lebih mementingkan akhirat dari pada dunia.

1. Pandangan Al-Muhasibi tentang ma’rifat
Al-Muhasibi berbicara pula tentang ma’rifat. Ia pun menulis sebuah buku tentangnya, namun, dikabarkan bahwa ia tidak diketahui alasannya kemudian membakarnya. Ia sangat berhati-hati dalam menjelaskan batasa-batasan agama,dan tidak mendalami pengertian batin agama yang dapat mengaburkan pengertian lahirnya dan menyebabkan keraguan. Inilah yanfg mendasarinya untuk memuji sekelompok sufi yang tidak berlebih-lebihan dalam menyelami pengertian batin agama. Dalam konteks ini pula ia menuturkan sebuah hasits Nabi yang berbunyi, “ pikirkanlah makhluk-makhluk Allah dan jangan coba-coba memikirkan Dzat Allah sebab kalian akan tersesat karenanya.” Berdasarkan hadits diatas dan hadis-hadis senada, Al-Muhasibi mengatakan bahwa ma’rifat harus ditempuh melalui jalan tasawuf yang mendasarkan pada kitab dan sunnah. Al-Muhasibi menjelaskan tahapan-tahapan ma’rifat sebagai berikut:
Taat, awal dari kecintaan kepada Allah adalah taat, yaitu wujud kongkrit ketaatan hamba kepada Allah. Kecintaan kepada Allah hanya dapat dibuktikan dengan jalan ketaatan, bukan sekedar pengungkapan kecintaan semata sebagaimana dilakukan oleh sebagian orang. Mengekspresikan kecintaan kepada Allah hanya dengan ungkapan-ungkapan, tanpa pengamalan merupakan kepalsuan samat. Diantara implementasi kecintaan kepada Allah adalah memenuhi hati dengan sinar. Kemudian sinar ini melimpah pada lidah dan anggota tubuh yang lain.
  • Aktivitas anggota tubuh yang telah disinari oleh cahaya yang memenuhi hati merupakan tahap ma’rifat selanjutnya.
  • Pada tahap ketiga ini Allah menyingkapkan khazanah-khazanah keilmuan dan kegaiban kepada setiap orang yang telah menempuh kedua tahap diatas. Ia akan menyaksikan berbagai rahasia yang selama ini disimpan Allah.
  • Tahap keempat adalah apa yang dikatakan oleh sementara sufi dan fana’ yang menyebabkan baqa’.


Pandangan Al-Muhasibi tentang Khauf dan Raja’

Dalam pandangan Al-Muhasibi, khauf (rasa takut) dan raja’ (pengharapan) menempati posisi penting dalam perjalanan seseorang membersihkan jiwa. Ia memasukkan kedua sifat itu dengan etika-etika, keagamaan lainnya.yakni, ketika disifati dengan khauf dan raja’, seseorang secara bersamaan disifati pula oleh sifat-sifat lainnya. Pangkal wara’ , menurutnya, adalah ketakwaan pangkal ketakwaan adalah introspeksi diri (musabat al-nafs) ; pangkal introspeksi diri adalah khauf dan raja’, pangkal khauf dan raja’ adalah pengetahuan tentanga janji dan ancaman Allah; pangakal pengetahuan tentang keduanya adalah perenungan.

Khauf dan raja’, menurut Al-Muhasibi, dapat dilakukan dengan sempurna bila berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-sunnah. Dalam hal ini, ia mengaitkan kedua sifat itu dikaitkan dengan ibadah dan janji serta ancaman Allah.Untuk itu, ia menganggap apa yang diungkapkan ibnu Sina dan Rabi’ah al-‘adawiyyah sebagai jenis fana atau kecintaan kepada Allah yang berlebih lebihan dan keluar dari garis yang telah di jelaskan Islam sendiri serta bertentangan dengan apa yang diyakini para sufi dari kalangan ahlusunnah, Al-muhasibi lebih lanjut mengatakan bahwa Al-quran jelas berbicara tentang pembalasan (pahala) dan siksaan.Ajakan ajakan Al-quran pun sesungguhnya dibangun atas dasar targhib (suggesti) dan tarhib (ancaman). Al-quran jelas pula berbicara tentang surga dan neraka.

15. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air,
16. Sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan.
17. Di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam.
18. Dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar.



Ia kemudian mengutip ayat-ayat berikut :

Ertinya :
 “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa berada di dalam taman-taman (surga) dan dimata air-mata air, sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik; mereka sedikit sekali tidur di waktu malam; dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun (kepada Allah)"
(QS.Adz-Dzariyyat,ayat:15-18).

 Raja’, dalam pandangan Al-Muhasibi, seharusnya melahirkan amal shaleh. Seseorang yang telah melakukan amal saleh, berhak mengharap pahala dari allah. Dan inilah yang dilakukan oleh mukmin yang sejati dan para sahabat Nabi.