Senin, 04 Maret 2013

PAPARAN TASAWWUF DALAM AL QUR’AN : QALB



4 Jenis Qalb:

Qalb itu ada empat macam: qalb yang bersih, padanya pelita yang bersinar gemilang. Maka itulah qalb Al-Mu’min. Qalb yang hitam terbalik, maka itulah qalb Al-Kafir. Qalb terbungkus yang terikat dengan bungkusnya, maka itulah qalb Al-Munafiq. Dan qalb yang melintang, padanya keimanan dan dan ke-nifaq-an. 1
 Mengapa Qalb yang Bersih Diperlukan ?

Orang bertanya kepada Rasulullah s.a.w., “Wahai Rasulullah! Di manakah Allah? Di bumi atau di langit?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Allah Ta’ala berfirman, ‘Tidak termuat Aku oleh bumi-Ku dan lelangit-Ku, dan termuat Aku oleh qalb hamba-Ku yang mu’min, yang lemah-lembut, yang tenang-tenteram.’” 2

 Beberapa Karakteristik Qalb Ideal

Ali k.w. berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala mempunyai wadah di bumi-Nya, yaitu qalb. Maka qalb yang paling dikasihi oleh Allah Ta’ala adalah yang paling kuat, yang paling bersih, dan yang paling lembut. Kemudian Ali k.w. menafsirkannya dengan mengatakan, “Paling kuatnya qalb itu mengenai Agama, paling bersihnya itu mengenai keyakinan, dan paling lembut kepada saudara-saudara. 3


Kedudukan Manusia Bergantung Kualitas Qalb-nya

Apabila dikehendaki oleh Allah kebajikan pada seorang hamba, niscaya dijadikan-Nya baginya Penasehat dari qalb-nya. 4
Barangsiapa mempunyai Penasehat dari qalb-nya, niscaya ada penjaga dari Allah kepadanya. 5

Jikalau tidaklah setan-setan itu mengelilingi qalb Bani Adam, niscaya mereka itu melihat ke alam malakut. 6

… dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara al-mar’i seseorang dengan qalb-nya, dan sesungguhnya kepada-Nya lah kalian akan dikumpulkan. 7

Orang bertanya kepada Rasulullah s.a.w., “Wahai Rasulullah! Siapakah manusia yang paling baik?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Tiap-tiap mu’min yang qalb-nya ‘makhmum’”. Lalu orang itu bertanya pula, “Apakah qalb yang ‘makhmum’ itu?” Rasulullah s.a.w. menjawab, “Orang yang takwa, hatinya bersih, tak ada padanya penipuan, kedurhakaan, pengkhianatan, kedengkian, dan hasad.” 8


Dosa Itu Mengotori Qalb

Manakala dosa itu telah bertindih-lapis, niscaya tercapkanlah di atas qalb. Dan pada ketika itu, butalah qalb dari mengetahui kebenaran dan kebaikan Agama. Dan ia mempermudah urusan akhirat. Dan membesarkan urusan dunia. Dan jadilah cita-citanya terbatas pada dunia. Maka apabila pendengarannya diketuk dengan urusan akhirat dan bahaya-bahaya yang ada di akhirat, niscaya masuk dari satu telinga dan keluar dari telinga yang satu lagi. Tidak menetap di dalam qalb dan tidak menggerakkannya kepada taubat dan memperoleh yang telah hilang. Merekalah orang-orang yang telah putus asa dari akhirat, sebagaimana putus asanya orang-orang kafir yang di dalam kubur. 9

Barangsiapa mengerjakan dosa, niscaya ia diceraikan oleh ‘aql yang tidak akan kembali lagi kepadanya untuk selama-lamanya. 10

Dan tidaklah yang mendustakan hal itu (yawm ad-Din) melainkan orang-orang yang melampaui batas lagi berdosa … sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutup qulub mereka. 11

Dan di antara manusia ada yang mengatakan, “Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir.” Padahal mereka itu bukan orang-orang yang mu’min. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, padahal mereka hanya menipu diri mereka sendiri sedang mereka tidak menyadari. Dalam qulub mereka terdapat penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya, dan bagi mereka azab yang pedih disebabkan mereka berdusta. 12

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi Jahannam kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai qalb (tapi) tidak memahami dengannya, mereka mempunyai mata (tapi) tidak melihat dengannya, dan mereka mempunyai telinga (tapi) tidak mendengar dengannya. Mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih tersesat. Mereka itulah orang-orang lalai (Al-Ghafilun). 13

Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan menemui Kami, mereka ridha dengan kehidupan dunia dan sudah merasa tenteram dengannya dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami. 14

Mereka hanya mengetahui yang dzahir saja dari kehidupan dunia, sedang mereka tentang akhirat adalah lalai (Ghafilun). 15

Yang demikian itu disebabkan karena sesungguhnya mereka mencintai (hubb) kehidupan dunia melebihi akhirat. Dan bahwasanya Allah tidak menunjuki kaum kafir (al-qawm al-kafirin). Mereka itulah orang-orang yang qalb, pendengaran, dan penglihatan mereka telah dikunci mati oleh Allah. Mereka itulah orang-orang yang lalai (al-ghafilun). 16

Pernahkah engkau melihat orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai sesembahannya (ilah) dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ‘Ilm-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan qalb-nya, dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran? 17

Dan Kami jadikan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding, dan Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat. 18

Allah telah mengunci mati qulub dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka azab yang berat. 19

Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan keimanan mereka dengan kedzaliman, mereka itulah orang-orang yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk (Muhtadun). 20

Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka mempunyai qulub yang ber-‘aql dengannya, atau mempunyai telinga yang mendengar dengannya? Maka sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, akan tetapi yang buta (adalah) qulub yang di dalam shudur. 21

Orang-orang Arab Badwi berkata, “Kami telah beriman.” Katakanlah, “Kalian belum beriman, tetapi katakanlah ‘Kami telah berserah diri’, karena iman itu belum masuk ke dalam qulub kalian, dan jika kalian ta’at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi (pahala) amal-amal kalian sedikitpun. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 22


 Tanda-tanda

Tatkala Rasulullah s.a.w. membaca firman Allah Ta’ala:
“Barangsiapa dikehendaki Allah memberi petunjuk kepadanya, niscaya dibuka-Nya shudur orang itu untuk berserah diri…” 23

Lalu orang bertanya kepada Nabi s.a.w., “Apakah pembukaan itu?”
Nabi s.a.w. menjawab, “Sesungguhnya cahaya (nuur) itu apabila diletakkan dalam qalb, maka terbukalah dada (shudur) menerima nuur tersebut dengan seluas-luasnya.”
Berkata lagi orang itu, “Adakah tanda-tandanya?”

Nabi s.a.w. menjawab, “Ya, ada! Merenggangkan diri dari negeri tipu daya, kembali ke negeri kekal dan bersedia untuk mati sebelum datangnya mati.” 24

Maka apakah orang-orang yang dibuka Allah shudur-nya untuk berserah diri lalu ia mendapat nur dari Rabb-nya (sama dengan orang yang membatu hatinya?) Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu qalb-nya untuk dzikril’lah (mengingat Allah). Mereka itu dalam kesesatan yang nyata. 25

… dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang dzalim (Adz-dzalimun). 26

Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun (al-Ghaffar) bagi orang-orang yang taubat, beriman, beramal shalih, kemudian tetap pada petunjuk. 27

CATATAN
1. Hadist Nabi s.a.w.
2. Hadist Nabi s.a.w.
3. Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin jilid IV hal. 25
4. Hadist Nabi s.a.w.
5. Hadist Nabi s.a.w.
6. Hadist Nabi s.a.w.
7. QS Al-Anfal[8]: 24
8. Hadist Nabi s.a.w.
9. Imam al-Ghazali, Ihya’ Ulumiddin jilid IV hal. 31
10. Hadist Nabi s.a.w.
11. QS Al-Muthaffifiin[83]: 12, 14
12. QS Al-Baqarah [2]:8-10
13. QS Al-A’raf[7]: 179
14. QS Yunus [10]: 7
15. QS Ar-Ruum [30]: 7
16. QS An-Nahl [16]: 107-108
17. QS Al-Jaatsiyah[45]: 23
18. QS Yaasiin [36]: 9
19. QS Al-Baqarah [2]: 7
20. QS Al-An’am[6]:82
21. QS Al-Hajj [22]: 46
22. QS Al-Hujurat[49]: 11
23. QS Al-An’am[6]: 125
24. Hadits Nabi s.a.w.
25. QS Az-Zumar [39]: 22
26. QS Al-Hujurat [49]: 11
27. QS Thaahaa [20]: 82 

PAPARAN TASAWWUF DALAM AL QUR’AN : MENGENAI JASAD, NAFS, QALB, RUH DAN AKAL



Jasad atau Jisim atau Bentuk (jasd, jism, shuwar)

Tubuh manusia yang tersusun dari materi dasar api, tanah, air dan udara, sebagaimana yang dapat kita indrai. Unsur-unsur dasar yang membentuk manusia itu sama dengan unsur-unsur dasar dari bumi, tempatnya jasad itu tinggal.
Jasad dihidupkan oleh hembusan ruh. Setelah hidup ia memerlukan enersi, yang dapat diperolehnya dari makanan yang bersumber dari bumi.
“Dan sungguh Kami telah menciptakan al-insan dari saripati tanah.” 1


 Nafs (tunggal = an-nafs, jamak = al-anfus)

Merupakan suatu barzakh (intermediary) antara jasad dan ruh. Jiwa tersusun dari unsur cahaya ilahiah; ia memiliki suatu kehidupan tersendiri yang terpisah dari jasad. Jiwa memperoleh enersinya dari ruh.

Jiwa merupakan hakikat ke-insan-an seseorang—jiwa lah yang membuat insan berbeda dengan makhluk-makhluk lainnya. Jiwa lah yang menjadi sasaran pendidikan Ilahi. Di dalam jiwa ditempatkan ruh; ke duanya ditempatkan dalam jasad. Alam jiwa disebut juga alam mitsal.

Jadi, selama perjalanannya di Bumi, jiwa (nafs) menggunakan kendaraan jasad. Dapat dikatakan jasad merupakan “nagari” atau “kota” pertama (yaitu, lingkungan yang paling dekat) bagi jiwa. Diberikannya perangkat jasad kepada jiwa dimaksudkan agar jiwa dapat mengambil bagian dalam pendidikan Ilahiah yang ditebarkan di Bumi. Di Bumi ini pula ia diseru untuk melaksanakan maksud dari penciptaannya.

Sesungguhnya Allah tidak mengubah sesuatu pada kaum hingga mereka mengubah apa-apa yang ada pada nafs-nafs mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan pada suatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan tak ada bagi mereka satu penolong pun selain Allah. 2

Dan adapun orang-orang yang takut (khawf) terhadap maqam Rabb-nya dan menahan nafs dari hawa nafsu, maka sesungguhnya jannah-lah tempatnya.3

Karena yang menjadi sasaran pendidikan ilahi adalah jiwa, pembahasan lebih mendalam ditujukan untuk memberikan pengantar bagi pendidikan jiwa melalui pensuciannya, yang disebut pula tazkiyatun-nafs atau jihadun-nafs.


Ruh (tunggal = ruh, jamak = arwah)

Ruh tersusun dari unsur cahaya yang paling murni dan paling tinggi kedudukannya dalam keseluruhan aspek manusia. Yang dihembuskan kepada manusia setelah disiapkan segala sesuatunya.

Ruh memberikan kehidupan kepada jasad—tanpa ruh jasad segera terurai kembali menjadi unsur-unsur bumi pembentuknya. Ruh merupakan sumber enersi bagi nafs. Apabila cahaya ruh tidak mencapai nafs maka nafs tersebut, sekalipun dia tetap hidup, akan tetapi dia tidak memiliki enersi atau lumpuh.

Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya ruh (dari)-Nya, dan Dia menjadikan bagi kalian pendengaran, penglihatan dan af’idah. Sedikit sekali kalian bersyukur.4

Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan Kutiupkan kepadanya ruh (dari)- Ku; maka hendaklah kalian tersungkur bersujud kepadanya.5


Qalb (tunggal = qalb, jamak = qulub)

Aspek partikular dari an-nafs tempat dikendalikannya seluruh elemen yang lain.

Di dalam diri insan—tepatnya pada perangkat qalb-nya—bertemu tiga alam yang berbeda, yakni: jismaniyyah, mitsal, dan arwah atau disebut pula tiga martabat kauniyyah.

Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seorang lelaki dua qalb dalam rongganya.6
‘Aql (al-‘aql, dibedakan dengan nalar atau akal jasad)

Aspek partikular dari Qalb, merupakan perangkat untuk menangkap dan mendapatkan al-‘ilm—yakni ilmu ketuhanan, yang didapatkan dengan hakikat penghambaan. Jadi, ilmu (al-‘ilm) ini dibedakan dengan ilmu biasa yang kita kenal sehari-hari, yaitu yang ditangkap oleh nalar dan didapatkan dengan jalan pengkajian.


Maka apakah mereka tidak berjalan di bumi, lalu mereka mempunyai qalb yang dengan itu mereka ber-‘aql atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah al-qalb yang ada di dalam shudur.7

“Barangsiapa berbuat dosa, maka berpisahlah ia dari ‘aql-nya dan tidak akan kembali selamanya.”6


Nafsu’l-Mutmainnah: yang Seyogyanya Dididik Menjadi Penggembala

Pensucian jiwa ditujukan untuk mendidik satu komponen jiwa—nafsu’l-muthmainnah—yang berperan sebagai penggembala yang kuat dan ber-ilmu, sehingga ia mampu mengatur komponen-komponen jiwa lainnya yang merupakan obyek gembalaannya. Jika yang seharusnya berperan sebagai sang gembala tertidur ataupun lumpuh kekurangan enersi, maka komponen-komponen lainnya bersikap liar dan kemudian saling berlomba menguasai qalb—yang berarti menguasai diri seseorang sepenuhnya.

Dan aku tidak membebaskan nafs-ku karena sesungguhnya nafs itu selalu menyuruh kepada kejahatan (nafs amara bissu’), kecuali (nafs) yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya Rabb-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.9

Dan aku bersumpah dengan nafs yang mencela (nafs al-lawwamah)10

Wahai nafs al-muthmainnah! Kembalilah kepada Rabb-mu dengan ridha lagi diridhai-Nya.11

Syahwat dan Hawa Nafsu

Pendidikan jiwa atau transformasi menuju Hakikat Insan yang sejati menghadapi tiga jenis musuh, yaitu: (1) Syahwat, hasrat yang berkenaan dengan hal-hal yang bersifat material; (2) Hawa-Nafsu, berkenaan dengan yang bersifat non-material, sperti misalnya takabur, riya’, ujub, harga-diri, dst.; (3) Syaithan, terdiri atas golongan jin dan manusia, yang mempengaruhi manusia dengan memperalat syahwat dan hawa-nafsu.

Dijadikan indah pada manusia kencintaan pada syahwat dari wanita-manita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak, dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik. 12

Katakanlah, ”Jika bapak-bapak kalian, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatir kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kalian sukai, adalah lebih kalian cintai (hubb) daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di sabil-Nya, maka tunggulah hingga Allah mendatangkan ‘amr-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik (al-qawm al-fasiqin). 13

Maka pernahkah kamu melihat orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai sesembahannya (ilah) dan Allah menyesatkan berdasar ‘ilm-Nya dan Allah mengunci mati pendengaran dan qalb-nya, dan menjadikan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang dapat memberinya petunjuk sesudah Allah? Maka mengapa kalian tidak mengambil pelajaran?14

Pernahkah kamu melihat orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai sesembahannya (ilah)? Maka apakah kamu dapat menjadi wakil atasnya?15
… dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkanmu dari sabil Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari sabil Allah akan mendapat azab yang sangat pedih disebabkan mereka melupakan Hari Penghisaban (yawm al-Hisab).16


Qalb Sebagai Singgasana Sang Raja

Di dalam diri manusia ada segumpal daging yang apabila ia shalih maka shalih-lah seluruhnya, jika ia fasad (rusak) maka fasad-lah seluruhnya. 17

Qalb itu ibarat singgasana Sang Raja. Komponen diri mana saja yang tengah berhasil menduduki qalb akan berkedudukan sebagai Raja dan memperlakukan komponen-komponen lainnya sebagai bala-tentaranya. Jika shaleh Sang Raja tersebut, maka shaleh pula bala tentaranya; sedangkan bila Raja-nya fasad (rusak) maka fasad pula bala-tentaranya.

Sang Raja yang tengah bertahta di atas singgasana qalb mempunyai 2 jenis bala-tentara:

1. Tentara Lahir: JISIM

• Tingkat 1: “… delapan pasang binatang ternak…” 18


1 Mata - Mata
2 Telinga - Telinga
3 Hidung - Hidung
4 Tangan - Tangan
5 Kaki - Kaki
6 Lidah - Perut
7 Mulut - Larinx
8 ↑ atau ↓ Pada orang lain

• Tingkat 2: “… tiga lapis kegelapan … “ 19

i. Penglihatan
ii. Pendengaran
iii. Al af’idah


2. Tentara Batin: HAWA atau HAWA-NAFSU

Keberadaan hawa-nafsu (hawa), Imam Al-Ghazali menyebutnya tentara bathin dari qalb, pada diri seseorang hanya bisa dilihat oleh mata batin, atau penglihatan dari qalb. Hawa-nafsu itu sesuatu yang memang ada, dan memang tidak untuk dihilangkan. Tujuan dari tazkiyatun-nafs adalah untuk mengendalikannya dan bukan untuk menghilangkannya. Sekalipun demikian, bagi kebanyakan orang aspek hewaniyyah-nya yang terus berhasil menguasai dirinya, karena nafsu’l muthmainnah-nya lumpuh.

 CATATAN
1. QS Al-Mu’minun [23]: 12
2. QS Ar-Ra’d[13]: 11
3. QS An-Naazi’aat[79]: 40
4. QS As-Sajdah[32]: 9
5. QS Shaad[38]: 72
6. QS Al-Ahzab[33}: 4
7. QS Al-Hajj[22]:46
8. Hadits Nabi s.a.w.
9. QS Yusuf[12]: 53
10. QS Al-Qiyamah[75]:2
11. QS Al-Fajr[89]: 27 – 28
12. QS Ali ‘Imran [3] : 14
13. QS At-Taubah[9]: 24
14. QS Al-Jatsiyah[45]: 23
15. QS Al-Furqan[25]: 43
16. QS Shaad[38]: 26.
17. Hadits Nabi s.a.w
18. QS Az Zumar [39]: 6
19. QS An Nuur [24]: 40

Selasa, 19 Februari 2013

KITAB ILMU IHYA ULUMUDDIN :BERLEBIH KURANGNYA MANUSIA TENTANG AKALNYA (SIRI 16)


KARANGAN IMAM AL GHAZALI DALAM IHYA ULUMUDDIN

Sambungan bab 7.... SIRI 16

Berlebih Kurangnya Manusia Tentang Akalnya


PENJELASAN : Berlebih Kurangnya Manusia Tentang Akalnya.


Sesungguhnya berbedalah manusia tentang berlebih kurang akalnya. Dan tak ada artinya bekerja menyalin perkataan orang-orang yang hasilnya sedikit sekali. Akan tetapi, yang lebih utama dan yang penting, ialah bersegera menegaskan kebenaran.

 Kebenaran yang tegas padanya ialah dikatakan, bahwa berlebih-kurangnya akal itu menempuh pada empat bahagian, selain bahagian yang kedua. Yaitu ilmu dlaruri tentang jaiznya barang yang jaiz (1) dan mustahilnya barang yang mustahil. (2)

1.Jaiz = Sesuatu Yang Boleh Jadi Ada , Boleh jadi Tiada
2. Mustahil = Sesuatu yang tak diterima akal , terjadinya dan adanya

Orang yang mengetahui bahwa dua adalah lebih banyak dari satu maka dia mengetahui juga mustahil adanya satu tubuh itu pada dua tempat dan adanya satu benda itu qadim dan hadits.

Begitu juga bandingan-bandingan yang lain dan seluruh apa yang dapat diketahui sebagai pengetahuan yang diyakini tanpa ragu-ragu-

Adapun yang tiga bahagian lagi, maka berlakulah berlebih kurang-nya akal padanya.

Dan bahagian yang keempat yaitu, : kerasnya kekuatan mencegah hawa nafsu. Maka tidaklah tersembunyi, berlebih kurangnya manusia padanya. Bahkan tidaklah tersembunyi berlebih - kurangnya keadaan seseorang menghadapi hawa nafsunya. Sekali, berlebih-kurangnya ini ada karena berlebih-kurangnya hawa nafsu. Sebab orang yang berakal itu kadang-kadang sanggup meninggalkan sebahagian hawa nafsunya dan tidak sanggup terhadap sebahagian yang lain. Tetapi bukan sehingga itu saja. Seorang pemuda kadang-kadang lemah dia meninggalkan zina. Dan ketika bertambah umurnya dan sempuma akalnya, maka sanggup dia meninggalkan zina itu

Ingin ria (sifat ingin memperlihatkan amal perbuatan kepada orang) dan ingin menjadi kepala, bertambah kuat dengan bertambah umur. Tidak bertambah lemah. Sebabnya, mungkin karena berlebih kurangnya ilmu yang memperkenalkan faedah hawa nafsu ingin ria dan menjadi kepala itu.

Karena itulah, seorang dokter sanggup mencegah diri dari sebahagian makanan yang mendatangkan melarat. Dan orang lain yang sama kedudukan akalnya,dengan dokter itu, tidak sanggup mena-hannya, apabila ia bukan dokter. Meskipun ia berkeyakinan secara umum, bahwa makanan itu mendatangkan melarat.

Akan tetapi, apabila pengetahuan dokter itu lebih sempurna, maka takutnyapun lebih keras. Maka adalah takut itu tentara bagi akal dan alatnya untuk mencegah dan menghancurkan hawa nafsu.

Demikian jugalah seorang alim itu lebih sanggup meninggalkan perbuatan ma'siat dari seorang bodoh. Karena kekuatan ilmu pengetahuannya dengan melaratnya perbuatan ma'siat itu. Yang saya maksudkan ialah orang berilmu yang sebenar-benarnya, bukan orang-orang yang bersyurban besar yang pandai bermain sandiwara.

Kalau berlebih-kurang itu dari segi hawa nafsu, niscaya tidak kembali kepada berlebih'kurangnya akal. Dan kalau dari segi ilmu, maka yang semacam ini, dari ilmu itu kita nam akan juga akal Karena ilmu pengetahuan itu menguatkan gharizah akal. Maka adalah berlebih kurang itu menurut nama yang diberikan. Dan kadang-kadang berlebih-kurang itu semata-mata pada gharizah akal, maka apahila gharizah akal itu kuat, maka sudah pasti pencegahannya terhadap hawa nafsu adalah lebih keras.

Adapun bahagian yang ketiga yaitu ilmu pengalaman, maka berlebih-kurang manusia padanya itu tidak dapat dibantah. Karena manusia itu berlebih kurang dengan banyaknya yang betul yang dikerjakannya dan tentang cepatnya mengetahui sesuatu, adakalanya karena berlebih-kurang tentang gharizah dan adakalanya menge-nai pengalaman kerja.

Adapun yang pertama tadi yakni gharizah, maka berlebih-kurang-nya, tak ada jalan untuk membantahnya. Karena akal itu adalah seumpama nur yang terbit pada jiwa dan terangnya akanmuncul. Titik pertama dari terbitnya nur tadi ialah ketika umur tamyiz (ketika anak itu sudah dapat membedakan antara untung dan rugi). Kemudian nur itu senantiasalah bertumbuh dan bertambah dengan pelan-pelan yang tidak kentara. Sehingga sempurnalah dia ketika umur sudah mendekati empat puluh tahun.

Nur tadi adalah seumpama cahaya subuh. Mula-mula sangat tersembunyi, sukar diketahui. Kemudian dari sedikit ke sedikit bertambah, sehingga sempurnalah dengan terbit bundaran matahari.

Berlebih-kurangnya nur mata hati adalah seperti berlebih-kurang-nya sinar mata kepala. Perbedaan itu dapat diketahui antara orang kero dan orang yang berpandangan tajam. Bahkan sunnatullah (kata orang kebanyakan - kemauan alam) berlaku pada sekalian makhlukNya, dengan beransur-ansur (tidak sekaligus) pada penga-daan. Hatta gharizah syahwat pun tidak timbul pada anak-anak ketika baligh sekaligus dan dengan tiba-tiba. Tetapi tumbuh sedikit demi sedikit, secara beransur-ansur.

Begitu pulalah segala kekuatan dan sifat. Orang yang membantah berlebih-kurangnya manusia pada gharizah ini, adalah seolah-olah dia sendiri telah terlepas dari ikatan akal.
Barangsiapa menyangka bahwa akal Nabi saw. adalah seperti akal seseorang dari orang hitam dan orang Arab bodoh, maka orang itu lebih jahat dirinya dari siapa-pun dari orang-orang hitam itu.

Bagaimanakah dapat memungkiri berlebih - kurangnya gharizah akal itu? Kalau tidaklah berlebih-kurang, maka tidaklah manusia itu berbeda-beda pada pemahaman ilmu pengetahuan. Dan tidaklah manusia itu terbagi-bagi kepada orang bodoh yang tidak dapat memahami sesuatu selain sesudah payah guru pengajarinya. Dan kepada orang pintar yang dapat memahami dengan sedikit tunjuk dan isyarat saja. Dan kepada orang sempurna (kamil) yang timbul dari dirinya hakikat segala sesuatu tanpa diajarkan, seperti firman Allah Ta'ala :

يَكَادُ زَيْتُهَا يُضِيءُ وَلَوْ لَمْ تَمْسَسْهُ نَارٌ نُورٌ

(Yakaadi' zaituhaa yudlii-u walau lam tamsashu naarun, nuurun 'alaa nuur).

Ertinya :"Hampir minyaknya meiaancarkan cahaya (sendirinya), biarpun tidak disinggung api. Cahaya berlapis cahaya ".( An-Nur, ayat 35).

Yang demikian itu adalah seperti nabi-nabi as. Karena jelas bagi mereka dalam bathinnya hal-hal yang sulit tanpa belajar dan mendengar yang dinamakan "ilham".

Hal yang seperti demikian, dijelaskan oleh Nabi saw. dengan sabdanya :

إن روح القدس نفث في روعي أحبب من أحببت فإنك مفارقه وعش ما شئت فإنك ميت واعمل ما شئت فإنك مجزي به

(Inna ruuhal qudusi nafatsa fii rau'ii ahbib man ahbabta fainnaka mufaariquhu, wa 'isy- maa syi'ta fainnaka mayyitun wa'mal maa syi'ta fainnaka majziyyun bih).

Ertinya :"Bahwa ruh suci itu mengilhami dalam hatiku : Sayangilah siapa yang engkau sayangi, sesungguhnya engkau akan berpisah dengan dia! Hiduplah bagaimana yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau akan mati! Berbuatlah apa yang engkau kehendaki, sesungguhnya engkau akan dibalasi dengan amal perbuatan itu "

Cara ini dari ajaran malaikat kepada nabi-nabi as. itu, berlainan dengan wahyu yang jelas. Yaitu mendengar suara dengan pancaindera dari telinga dan melihat malaikat dengan pancaindera dari mata.

Karena itulah diterangkan dari hal ini, dengan pengilhaman ke dalam hati. Dan tingkatan wahyu itu banyak, Membicarakannya tidak layak dalam ilmu muamalah. Karena dia itu sebahagian dari ilmu mukasyafah.

Janganlah disangka bahwa dengan mengenai tingkatan-tingkatan wahyu itu, membawa kita kepada derajat wahyu, Karena tidak jauh perbedaannya dengan seorang dokter yang mengajari orang sakit, tingkatan-tingkatan kesehatan dan seorang 'alim yang mengajari orang fasiq, tingkatan-tingkatan keadilan, meskipun dia sendiri kosong daripadanya.

Maka ilmu itu satu hal dan adanya yang diketahui itu satu hal pula. Maka tidaklah tiap orang yang mengetahui tentang kenabian dan kewalian, lalu dia itu nabi dan wali. Dan tidak pula setiap orang yang mengenai taqwa, dan wara' sampai kepada yang sekecil-kecilnya, lalu dia itu seorang yang taqwa.

Dan terbaginya manusia itu kepada orang yang menyadari dari dirinya sendiri dan mengerti, orang yang tidak mengerti melainkan dengan disadarkan dan diajarkan dan orang yang tak ada gunanya diajarkan dan juga disadarkan, adalah seperti terbaginya tanah : ada yang terkumpul padanya air, lalu kuat. Maka dapat memancarkan beberapa mata air. Ada yang memerlukan kepada penggalian supaya keluar air ke parit-parit. Dan ada pula yang tidak berguna sama sekali digali, yaitu tanah kering yang tidak mengandung air. Dan yang demikian itu, karena berbeda zat tanah mengenai sifat-sifatnya.

Maka seperti itu pulalah perbedaan jiwa dalam gharizah akal.

Berlebih - kurangnya akal menurut yang dinukilkan dari agama, dibuktikan oleh riwayat bahwa Abdullah bin Salam ra. bertanya kepada Nabi saw. dalam suatu pembicaraan yang panjang. Di mana pada akhirnya Nabi saw. menyifatkan kebesaran 'Arasy dan para malaikat bertanya kepada Tuhan : "Hai Tuhan kami'. Adakah Engkau menjadikan sesuatu yang lebih besar dari 'Arasy?".

Maka menjawab Tuhan : "Ada, yaitu akal!".

Bertanya malaikat lagi: "Sampai di mana batas kebesarannya?".

Menjawab Tuhan : "Tidak dapat dihinggakan dengan suatu ilmu pengetahuan. Adakah bagimu pengetahuan tentang bilangan pasir?".

Menjawab malaikat itu : "Tidak".

Maka berfirman Allah Ta'ala : قال الله عز وجل فإني خلقت العقل أصنافا شتى كعدد الرمل فمن الناس من أعطى حبة ومنهم من أعطى حبتين ومنهم من أعطى الثلاث والأربع ومنهم من أعطى فرقا ومنهم من أعطى وسقا ومنهم من أعطى أكثر من ذلك

Sesungguhnya Aku menjadikan akal itu bermacam-macam, seperti bilangan pasir. Sebahagian manusia ada yang diberikan sebiji. Sebahagian ada yang diberikan dua biji, ada yang tiga biji dan empat biji. Diantara mereka ada yang diberikan secupak, ada yang segantang dan ada pula diantara mereka yang diberikan lebih banyak dari itu".

Jikalau anda bertanya, mengapa beberapa golongan dari kaum shufi mencela akal dan apa yang dipahami oleh akal?.

Mengenai dengan celaan itu, ketahuilah bahwa sebabnya, ialah karena manusia membawa nama akal dan apa yang dipahami oleh akal itu, kepada pertengkaran dan perdebatan tentang soal-soal yang bertentangan dan main mutlak-mutlakan. Yaitu membuat ilmu kalam.

Maka kaum shufi itu tidak sanggup menetapkan dengan dalil-dalil dari mereka sendiri bahwa anda telah bersalah memberi nama itu. Karena cara yang demikian itu tidak terhapus begitu saja dari hati kaum shufi sesudah demikian berkembang pada mulut orang banyak dan melekat pada hati. Lalu kaum shufi itu mencela akal dan apa yang dipahami oleh akal. Yaitu akal yang dinamakan dengan demikian pada mereka.

Adapun nur mata hati yang tersembunyi yang dengan nur itu dikenal Allah Ta'ala dan kebenaran rasul-rasulNya, maka bagaimanakah tergambar mencelanya? Sedangkan Allah Ta'ala memberi pujian kepadanya? Kalau dicela, maka apalagi sesudah itu yang dapat dipuji?.

Kalau yang dipuji itu agama, maka dengan apa diketahui kebenaran agama itu? Kalau diketahui dengan akal yang dicela, yang tak dapat dipercayai itu, maka adalah agama itu tercela pula. Dan janganlah terpengaruh dengan orang yang mengatakan bahwa agama itu diketahui dengan 'ainul-yaqin dan nurul-iman, tidak dengan akal.

Sesungguhnya kami maksudkan dengan akal itu, ialah apa yang dimaksudkan dengan 'ainul-yaqin dan nurul-iman tadi. Yaitu sifat bathiniah yang membedakan manusia dari hewan. Sehingga manusia itu dapat mengetahui hakikat segala sesuatu dengan sifat bathiniah tersebut.

Kebanyakan kesalahan itu berkembang dari kebodohan orang-orang yang mencari kebenaran dari kata-kata saja. Maka tersalahlah mereka dalam kata-kata itu, karena kesalahan istilah manusia pada kata-kata itu.

Sekedar ini mencukupilah mengenai penjelasan akal itu! Wallaahu a'lam.

Allah Yang Maha Tahu!.

Telah sempurnalah KITAB ILMU dengan pujian dan nikmat Allah Ta'ala.

Rahmat Allah kepada penghulu kita Muhammad dan kepada tiap-tiap hambaNya yang pilihan dari penduduk bumi dan langit, di mana akan disambung dengan KITAB QAWA'IDIL-'AQAID insya Allah Ta'ala.

 والحمد لله وحده أولا وآخرا

 Segala pujian untuk Allah Yang Maha Esa pada awalnya dan pada akhimya!.